Tag: SMA

  • Kenapa Memilih MIPA saat SMA?

    Kenapa Memilih MIPA saat SMA?

    4–5 minutes

    Beberapa minggu lagi gue akan melaksanakan UN (Ujian Nasional). Padahal berharap bisa ikut AKM (Asesmen Kompetensi Minimum)😞. Minggu ini gue lagi ngejalanin Ujian Sekolah. Gue nulis ini untuk menyalurkan kepenatan. Sekalian mau sharing juga mengenai pilihan jurusan saat SMA.

    Mungkin banyak dari kalian yang mau masuk SMA terus bingung mau pilih jurusan apa, tenang kalian tidak sendirian. Gue pula salah satunya.

    Sebenarnya, kalo mau ngebahas pilihan jurusan saat SMA itu menurut gue lumayan kompleks sih. Soalnya, selama gue menjalankan pilihan itu, ternyata tidak semudah yang gue bayangkan.

    Waktu SMP, gue sama sekali tidak pernah mikirin mau ngambil jurusan apa saat SMA nanti. Yang gue lakukan selama SMP cuma belajar, belajar, dan belajar. Sampai tiba di suatu titik, yang mana gue harus membuat keputusan untuk masa depan gue sendiri.

    Beberapa bulan sebelum UN, sekolah gue mengadakan tes minat bakat bersama salah satu lembaga psikologi untuk membantu para siswa yang bingung dan labil dalam memilih tujuan pendidikan selanjutnya.

    Dari hasil tes yang sudah gue jalankan, gue mendapatkan rekomendasi untuk masuk SMA jurusan MIPA. Gue awalnya agak heran kenapa gue direkomendasikan untuk milih jurusan itu. Tapi, balik lagi gue beneran buta banget sama ruang lingkup SMA jadi gue ngikut aja sama hasilnya.

    Selama pendaftaran PPDB, gue sama kedua orang tua gue sempat berdiskusi perihal pemilihan jurusan.

    Awalnya, gue mau pilih jurusan Bahasa. Dengan alasan gue tidak mau pusing dan terbebani. Karena memang skill gue yang selama ini menonjol ialah di bidang linguistik.

    Tetapi, setelah dipikir-pikir gue orangnya gampang bosan kalo tidak ada tantangan. Jadinya, gue tidak jadi mengambil jurusan Bahasa.

    Keputusan kedua, pilih jurusan sesuai yang direkomendasikan, yaitu MIPA.

    Last minutes banget, bokap gue sempat menyarankan untuk pilih IPS aja. Tapi, tidak tahu kenapa gue merasa gigih banget harus ambil MIPA. Walaupun, gue sebenarnya tidak tahu kalo pilihan yang gue pilih ini bakalan menjadi sebuah “beban” yang menguntungkan.

    Gue akhirnya daftar PPDB SMA dengan jurusan MIPA dan diterima.

    Gue mau spill my own tea, sebenarnya setelah satu bulan gue di SMA dengan jurusan yang gue pilih itu, gue langsung merasa tidak minat untuk menekuninya lagi. Bisa dibilang gue salah jurusan.

    Apalagi setelah mengikuti ajang Abang None Buku waktu itu yang membuat gue merasa semakin berbeda dari teman-teman gue.

    Bahkan, karena gue berhasil masuk Top 5 pada ajang Abang None Buku, pihak sekolah sempat kasih privilege ke gue untuk pindah jurusan ke IPS.

    Apakah gue pidah? Jelas tidak.

    Gue tetap gigih untuk menetap di MIPA. Karena, gue selalu punya prinsip akan apapun keputusan yang sudah gue ambil, keputusan itu harus gue jalankan sampai selesai.

    Walaupun pada akhirnya gue jadi sering sakit selama SMA karena gue sebenarnya tidak kuat.

    Gue bisa mengikut pelajarannya, tetapi gue punya limit.

    Pastinya, limit yang gue miliki ini sangat berbanding jauh daripada murid-murid jurusan MIPA lainnya.

    Sampai masuk ke sebuah fase, yang mana gue akhirnya bisa menemukan jati diri gue. Jati diriku adalah Seni.

    Menemukan jati diri itu lumayan memakan waktu yang cukup lama dan butuh lingkungan yang mendukung juga. Gue merasa beruntung karena lingkungan gue sangat memadai untuk membuat gue berhasil menemukan bagian dari diri gue yang selama ini terkubur.

    Suatu saat, setelah gue tidak masuk selama berminggu-minggu, guru Bahasa Indonesia gue sempat menanyakan tentang diri gue. Gue pun memberikan jawaban kalau gue sedang mengasah kembali kemampuan gue di bidang seni.

    Beliau kaget, karena dia bingung kenapa anak seni masuk MIPA. Standarnya anak seni biasanya mengambil IPS, tapi gue malah bikin dunia sendiri.

    Beruntungnya, beliau bisa membuat kesimpulan atas keputusan gue. Beliau bilang, gue masuk MIPA untuk mengasah logika, yang mana gue tahu dan sadari kalo gue memang kurang dalam hal itu. Dengan mengambil MIPA gue jadi memiliki pemikiran-pemikiran yang lebih presisi, jelas, dan logis.

    Bisa dibilang, gue merasa lebih pintar :v

    “Terus, kalo fokus ke Seni, ilmu selama tiga tahun di MIPA sia-sia dong?”

    Gurl, pernah baca dan dengar pepatah bahwa tidak ada ilmu yang sia-sia, bukan? Gue dapat banyak banget komentar kayak gini dari teman-teman gue, tetapi gue akan selalu balikin dengan pepatah itu.

    Justru karena gue tahu gue kurang di MIPA, maka dari itu gue memilih jurusan MIPA. Gue tidak mau otak gue cuma bisa yang itu saja, tapi gue mau daya otak gue untuk berkembang.

    Mungkin ya kalau dilihat dari sisi akademis (nilai), gue tergolong murid yang biasa saja. Bukan murid jenius, karena memang itu bukan bidang gue.

    Bukan hanya daya otak saja yang menguntungkan gue, tetapi juga untuk masa depan gue kelak. Khususnya, bidang seni yang pastinya harus maju dengan IPTEK dan beruntungnya gue bisa dapat kesempatan untuk belajar MIPA yang membuat gue kurang lebih bisa paham sama dunia science.

    Kelak  di masa yang akan datang gue bisa mengkombinasikan seni dan science menjadi sebuah seni kontemporer.

    Diambil dari pengalaman gue dalam mengerjakan karya untuk pameran perdana gue “The Lightworkers“, riset yang gue lakukan bisa sampai se-detail itu dan karena terbiasa di MIPA untuk memberikan alasan logis, karya gue pula memiliki alasan yang jelas akan mengapa suatu karya itu diciptakan.

    Mulai sekarang, jangan takut salah jurusan karena pastinya akan ada hal baik dari pilihan itu. Yang jelas, serahkan semua ke tangan Tuhan. Karena Tuhan pasti punya rencana yang terbaik dari rancangan apapun.

    SEMANGAT!!! ❤️


    Leave a comment

    Stay in Touch!

    Enter your email below to receive updates.