Helios Ávra merupakan karya seni instalasi pertama dari Hannah Brigitta. Nama Helios Ávra diambil dari bahasa Yunani yang berarti matahari dan aura. Yang mana, keduanya merupakan bagian dari tokoh mitologi Yunani. Helios, dewa matahari. Ávra, dewi titan semilir angin dan udara sejuk di pagi hari.
Helios Ávra is the first installation art by Hannah Brigitta. The name Helios Ávra taken from the Greek meaning of sun and aura. Which, both are part of the Greek mythological figures. Helios, the god of the sun. Ávra, the titan goddess of breezes and cool air in the morning.
Di mata Hannah, matahari digambarkan seperti kelopak bunga mekar. Matahari diambil sebagai representatif dari sumber energi dalam jiwa manusia (mental). Enam warna (indigo, biru, hijau, kuning, jingga, dan merah) sebagai representatif dari aura manusia. Helios Ávra hadir untuk menggambarkan aura dan keseimbangan jiwa dari manusia.
In Hannah’s eyes, the sun portrayed as a blooming flower petal. The sun is the representative of the energy source in the human soul (mental). There are six colours (indigo, blue, green, yellow, orange and red) representing human’s aura. Helios Ávra lives to represent the aura and balance of the soul of humans.
Helios Ávra digagaskan oleh Hannah Brigitta setelah melakukan riset dengan dr Tb. Erwin Kusuma, SpKJ (K) (psikiater) dan Tom Suhalim (pakar aura). Selama tiga bulan, Hannah sempat sakit tanpa diagnosa. Sampai akhirnya, Hannah berkesempatan bertemu dengan dr Erwin dan menerangkan Hannah mengenai jiwa. Lalu, melakukan prosedur foto aura dengan Pak Tom yang memberikan hasil bahwa dirinya cenderung memiliki aura hijau (Indigo Humanis) dan terkadang muncul aura merah yang berarti kemarahan terpendam.
Helios Ávra was invented by Hannah Brigitta after analyzed with Dr Tb. Erwin Kusuma, SpKJ (K) (psychiatrist) and Tom Suhalim (aura expert). For about three months, she was ill without any diagnosis. Until one day, she had the opportunity to meet Dr Erwin that explained her about the soul. Done an aura photo procedure with Mr Tom and the result showed that she tends to have a green aura (Humanist Indigo) with a red aura that sometimes appeared as the meaning of anger.
Aura yang dimiliki Hannah menginspirasi dirinya untuk membuat Helios Ávra untuk memberitahukan, bahwa kita harus memiliki badan, jiwa, dan roh yang seimbang.
Hannah’s aura inspired her to make Helios Ávra by telling us that we must have a balanced body, soul and spirit.
Hampir satu tahun tidak nulis blog, stress ngurusin pameran dan sekolah. Akhirnya gue kembali lagi dengan membawakan sebuah blog mengenai pameran tunggal dan peluncuran novel gue, yaitu TheLightworkers.
Pada tahun 2017, tepatnya setelah mengikuti ajang Abang None Buku Jakarta Utara 2017. Gue terinspirasi dari beberapa finalis yang ternyata sering menulis cerita di salah satu platform, Wattpad. Sejak saat itu, gue jadi ikutan nulis disitu.
Entah mengapa, gue kepikiran buat nulis cerita hidup gue yang kelihatannya menarik. Lahirlah sebuah cerita yang awalnya gue kasih judul “Aku INDIGO”.
Awal-awal cerita itu lebih fokus ke jalan cerita hidup gue sendiri dan beberapa plot gue karang sedikit biar lebih menarik.
Satu kelemahan dalam proses berkarya gue selama di Wattpad, yaitu gue jarang banget update ceritanya. Dengan berbagai macam agenda, akhirnya tidak ada waktu buat ngurusin cerita sendiri.
Karena awalnya iseng, gue tidak pernah kepikiran bahwa cerita ini mau gue seriusin. Jadi, selama proses pembuatan pula gue anggap sebagai hiburan dari kepenatan gue sekolah aja.
Sampai pada awal tahun 2019, gue akhirnya punya keputusan konkret bahwa gue mau masuk FSRD. Kebetulan guru Seni Rupa gue baru aja ganti, dengan gue melihat peluang kalo guru baru pasti punya banyak relasi dan akhirnya itu memberanikan gue untuk minta tolong sama beliau. Namanya, Pak Abi Rafdi Aufar.
Beliau juga jarang banget masuk kelas, katanya sih sering ditugasin sama sekolah. Kebetulan di suatu siang yang begitu terik dengan panas yang menyengat kulit, Pak Abi masuk. Langsunglah gue samperin ke depan meja guru dan bilang, “Pak, saya mau masuk FSRD!”.
Gue masih inget banget, beliau kaget dengan pernyataan gue.
Keesokan harinya, gue dipanggil beliau ke ruang guru. Nah, inilah awal mula semua ini terjadi.
Beliau nawarin gue untuk ikut program studi Seni Rupa dan Sastra, yaitu Remedial. Karena gue beneran pengen banget masuk FSRD gue pun menyetujui tawaran beliau.
Pulang dari sekolah gue langsung diskusi sama kedua orang tua gue, karena kebetulan juga tempatnya jauh dari rumah gue. Orang tua gue pun setuju dan gue selama kurang lebih satu minggu bolos les untuk menyiapkan portofolio yang diminta untuk pendaftaran peserta waktu itu.
Kebetulan isi portofolio gue ada karya sastra dan seni rupanya, lengkap udah itu.
Setelah menunggu beberapa waktu akhirnya pengumuman seleksi peserta Remedial keluar dan ada nama gue. Seneng banget sih itu, tidak bisa dideskripsikan seberapa bahagianya gue waktu dapet email dari Remedial.
Waktu awal pertemuan gue kenalan sama peserta lainnya, gue melihat mereka keren-keren banget. Awalnya ikut kegiatan ini untuk fokus ke Seni Rupa karena gue mau masuk FSRD.
Setelah beberapa pertemuan, karangan gue dilirik sama Remedial dan mereka menawarkan untuk menerbitkan karangan itu. Yang jelas, gue setuju. Like, siapa sih yang mau menolak kesempatan itu?
Tapi sayang, tiap pertemuan pesertanya makin menyusut. Sampai pada saat presentasi Remedial yang pertama hanya tersisa lima peserta saja (Presentasi Pertama Remedial 2019)
Sebuah momen saat presentasi itu adalah saatnya pemaparan konsep pameran nanti dan pemberitahuan mentor untuk setiap peserta.
Dari kita berlima, cuma gue yang belum ada mentornya saat itu. I’m kinda sad at that time. But, I can understand the situation sih karena mereka tidak mau salah bimbingan.
Beberapa hari setelah presentasi Remedial yang pertama, gue dihubungin via WA dan dikabarin bahwa gue udah dapet mentor. GUE TERIAK KESENANGAN PAS BACA KALO MENTOR GUE MONICA HAPSARI!!!!!
WAH GILA SIH… SPEECHLESS.
Gue dikasih kontaknya dan gue nunggu beberapa hari buat hubungin Kak Monic, jujur aja gue nervous duluan LMAO. Gue sampe ngetik di notes dulu dan nanya ke Bokap gue kalo kalimatnya bener apa tidak. Iya, gue segugup itu. Malu banget gue jelasinnya, LOL.
Akhirnya, gue kirim pesan ke Kak Monic. Gugup nunggu dibales. Tangan jadi dingin. Gue tidak bisa diem di tempat. Memantau hp gue.
Pas pesan gue dibales, gue kesenengan tidak jelas terus bingung mau bales apa. Sampai akhirnya, pertemuan gue pertama kali sama Kak Monic itu di rumahnya. Baik banget orangnya :’))))).
Gue selama di rumah Kak Monic ditemenin sama bokap sampe pulang. Bisa dibilang, gue sama Kak Monic ngobrol seharian dan itu non-stop. SERU BANGET DONG NGOBROLNYA, NGALIR KAYAK ARUS LISTRIK.
Dari hasil gue ngobrol sama Kak Monic, gue dapet banyak banget ide-ide baru buat cerita gue. Salah satunya adalah perubahan judul dari “Aku INDIGO” menjadi “The Lightworkers” (ini juga menjadi salah satu bahan pameran kemarin).
Dengan banyaknya referensi yang gue dapatkan dari Kak Monic, gue nyari waktu setelah pulang sekolah dan setiap weekend untuk research bahan-bahan yang dikasih dari beliau.
Sayangnya, ditengah-tengah proses pembuatan karya gue sakit. Sakit selama tiga bulan dan tanpa diagnosa. Awalnya gue udah putus asa karena tidak bisa melanjutkan karya.
Apalah daya, mau napas aja susah.
Selama tiga bulan itu gue tidak sekolah dan tidak les, hampir setiap hari gue nangis. Stress. Depresi berat. Hopeless. Takut. Cemas. Non-stop konsumsi obat.
Khususnya yang paling gue takutkan adalah urusan sama sekolah, gue stress banget mikirinnya. Setelah satu bulan stress mikirin tidak bisa sekolah dan tugas yang numpuk, dokter suruh gue untuk let go dulu semua urusan termasuk pameran.
Bahkan, gue udah ada kepikiran untuk mundur dari program Remedial. Awalnya tanggal pameran itu sekitar pertengahan Desember 2019.
Pas banget di awal November 2019 gue mau ngabarin kalo gue mau mengundurkan diri, tapi ternyata Tuhan berkata lain. Gue dikabarin kalo pamerannya diundur jadi bulan Januari karena ada Open House.
Gue seneng banget. Gue masih bisa menaruh harapan kalo bulan Januari nanti gue tetap bisa pameran.
Hanya orang tua, teman-teman, Pak Abi, dan Pak Wacil Wahyudi (Kepala Sekolah Remedial) yang selalu ngedukung dan semangatin gue untuk tetap semangat dan berjuang untuk sembuh.
Malam itu di awal bulan Desember 2019 setelah dari dokter untuk kesekian kalinya, gue sama bokap gue makan di salah satu tempat makan di daerah Tangerang Selatan. Selama perjalanan ke tempat makan, gue kepikiran akan sesuatu hal.
Gue minta kertas sama pulpen ke bokap gue, terus gue gambar dan terbentuklah “Helios Ávra”.
Asal muasal Helios Ávra sendiri bisa dibilang cukup kelam, yang mana itu menjadi sebuah karya yang muncul disaat gue sakit dan mental gue juga tidak beres saat itu.
Sekarang Helios Ávra sudah menjadi sebuah bagian penting dalam peristiwa di kehidupan gue pribadi. Helios Ávra mengingatkan gue terhadap kesedihan dan kekecewaan gue selama hampir tiga tahun pengerjaan karya ini.
Akhirnya, di minggu-minggu terakhir sekolah gue semangatin diri gue lagi untuk masuk sekolah. Walaupun tidak bisa lama-lama, setidaknya gue udah berusaha dan seneng bisa balik lagi menginjak tanah sekolah. Urusan sekolah akhirnya selesai dan gue mulai semangatin diri gue lagi untuk selesain naskah dan karya pameran nanti.
Naskah pun akhirnya terselesaikan pada pertengahan Desember 2019.
Karena otak gue udah tidak ada inspirasi lagi buat bahan pameran nanti, gue akhirnya pergi liburan sekalian buat terapi mental gue yang hancur habis-habisan selama tiga bulan itu.
Sebenarnya, dari November 2019 dokter sudah menyarankan gue untuk pergi liburan. Tapi, dengan syarat bahwa semua urusan gue harus diberesin dulu.
Karena urusan sekolah dan naskah gue rasa sudah cukup. Akhirnya, gue sekeluarga pergi jalan-jalan ke Bali. Tidak tahu kenapa tapi yang terlintas di otak gue adalah Bali.
Desember 2019 menjadi momen yang paling berkesan banget di dalam kehidupan gue selama tahun 2019. Semua mulai berubah di bulan itu, seakan-akan Tuhan sudah nyiapin surprise buat gue (Therapy). Setelah gue hancur berkeping-keping di awal 2019 ternyata ada sesuatu di akhir 2019.
Hidup gue mulai berubah sejak gue ke Bali dan ketemu sama Pak Ucok Silitonga dan keluarganya.
Di tahun 2020, semua mulai berubah perlahan. Gue bener-bener bisa ngerasain apa itu bahagia yang sebenarnya. Rasa yang selama ini gue dambakan akhirnya bisa gue rasakan.
Satu hari setelah tahun baru gue balik ke Jakarta, gue mulai lanjutin karya gue lagi. Di saat deadline sudah mau mendekat dan karya belum selesai juga, gue dikabarin lagi kalo pamerannya jadinya bulan Februari 2020. KEREN BANGET GK SIH?!? BISA PAS BANGET :’))
Di bulan Januari 2020, gue akhirnya ketemu sama kurator gue, Kak Rifandi Nugroho. Disini gue dikabarin kalo yang pameran tinggal dua peserta aja. Sad banget 😥
Setelah banyak berbincang dengan Kak Rifandi, muncullah sebuah gagasan untuk masukin arsip selama gue sakit. Hasil röntgen, dll pun dimasukan ke pameran gue.
Sampai akhirnya sudah tinggal satu minggu sebelum pameran, gue dikabarin kalo gue jadinya pameran sendiri aka pameran tunggal.
Waktu nyebarin posternya di sosmed gue sama sekali tidak sadar kalo tulisannya itu pameran tunggal. Gue baru sadar pas gue di-DM sama Pak Abi LOL.
Gue jadi tambah nervous, karena gue bakalan pameran sendiri. Gue tidak tahu harus apa nanti.
Akhirnya, pembukaan pameran tunggal dan peluncuran buku berlangsung lancar. Gue seneng banget. Tidak tahu mau ngomong apa lagi. Setiap ada yang nanya, gue udah kehabisan kata-kata kalo ngebahas perjalanan gue untuk sampai ke titik ini.
Beberapa hari setelahnya, gue dikabarin sama temen gue kalo pameran gue masuk ke agenda DISPAREKRAF DKI JAKARTA, gue panik dong.
Begitulah kurang lebih, kisah dibalik proses pengerjaan karya The Lightworkers ini. Dari sebuah novel menjadi sebuah titik tolak gue untuk menciptakan karya seni rupa dan pameran tunggal.
Selama satu tahun mengabdi di ABNONKU JAKUT (2017-2018) gue punya proker saat itu, yang mana gue mau gabungin literasi dengan dunia seni. Sempet jalan sih, tapi kurang maksimal. Mungkin karena saat itu ABNONKU tugasnya di RPTRA yang mana isinya adalah anak-anak.
Sekarang, proker itu sudah bisa gue realisasi sendiri dan gue bangga.
Leave a comment