Tag: Gudskul

  • Pendaftaran Art Career Day 2021 Telah Dibuka!

    Pendaftaran Art Career Day 2021 Telah Dibuka!

    1–2 minutes

    Mau jadi seniman tapi bingung harus bagaimana? Atau kamu penasaran bagaimana berkarier di dunia seni? Gudskul mempersembahkan “ART CAREER DAY 2021: KARIER SENI RUPA DI INDONESIA”!

    Art Career Day 2021 akan menjadi program yang cocok banget buat kamu yang berminat mendalami profesi di bidang seni!

    Akan ada:

    •Webinar GRATIS via Google Meet

    • Remedial Arts Career Advisory (RACA) sebagai layanan career counselling bersama profesional

    Acara ini akan diadakan pada tanggal 5 dan 6 Februari 2021

    Bersama: Muchlis Fachri, Angga Cipta, Ella Wijt, M. Sigit Budi Santoso, Christine Toelle, dan Gesyada Siregar

    Tunggu apa lagi? Segera daftarkan diri kamu dan rasakan semua fasilitasnya hanya di Art Career Day 2021!

    Klik di sini untuk mendaftar!

    Kunjungi kami di @remedial_s dan website resmi remedial.id


    Leave a comment

    Stay in Touch!

    Enter your email below to receive updates.

  • RURUradio

    2–3 minutes

    (Sabtu, 06/04/2019) RURUradio bermula dari RURU Shop Radio pada tahun 2011 yang merupakan salah satu divisi dari Ruang Rupa, Art Lab., Jakarta 32, OK Video, dan RURU Shop. RURU Shop ini tutup setiap jam 9 malam, tapi teman-teman sekitaran Ruang Rupa tiap malam menggunakan RURU Shop sebagai ruangan untuk bekerja, nongkrong, atau diskusi, dan sebagainya. Sampai suatu saat bergagas untuk membuat siaran radio, dimana saat itu radio streaming (online) belum terlalu dikenal masyarakat.

    Awalnya, RURUradio mencoba di salah satu platform radio online yang gratis dan berhasil mengudara. Tetapi, karena gratis jumlah pendengarnya juga terbatas, sekitar 15 orang. Setelahnya, mereka bergerak untuk mencari equipment, mixer, microphone, komputer, dan lain-lain. Dalam waktu yang cukup singkat, semuanya terkumpul dan untuk pertama kalinya Rururadio pun mengudara menggunakan microphone.

    Karena RURUradio bermula dari RURU Shop, maka dulu namanya adalah RURU Shop Radio. Saat itu, RURUradio hanyalah untuk mengisi waktu luang saja dan penyiarnya serta jadwalnya pun masih random. Ricky Malau, pemeran Bang Badar dalam sinetron TUKANG BUBUR NAIK HAJI The Series merupakan salah satu pionir penyiar di RURU Shop Radio.

    Pada tahun 2012, mulailah terbentuk konten-konten untuk dibahas dalam RURU Shop Radio. Tetapi, tidak berjalan stabil. Karena orang-orang yang terlibat masih punya kesibukan masing-masing, ada anak band, siaran beneran di radio konvensional, seniman, penulis, dan latar belakang lainnya. Akibatnya, grafiknya pun naik-turun (tidak stabil).

    Pada tahun 2015, RURU Shop Radio melakukan rebranding menjadi RURUradio. Arie Apriludy atau dikenal dengan nama Arie Dagienkz yang merupakan salah satu penyiar senior Indonesia, turut bergabung dalam RURUradio.

    Sampai di tahun 2018, RURUradio lebih mengutamakan berbincang dalam bentuk obrolan yang kadang serius, lucu, dan tidak lucu lalu dilanjutkan dengan 2-3 musik. Ternyata itulah yang menarik pada pendengar dan berjalan sampai sekarang. Dalam setiap konteks siaran, RURUradio mulai mencari penyiar yang tahu akan konten yang akan dibahas, misalnya membahas seni rupa kontemporer maka penyiarnya pun adalah orang yang paham akan situasi seni rupa kontemporer di Indonesia ataupun dunia. Pembahasan di RURUradio dilakukan secara spontan alias tanpa script dan inilah salah satu aspek yang membuat RURUradio berbeda.

    62855243-0c33-4fc7-b177-c937533ed74a

    Setelahnya, peserta diajak touring ke ruangan RURUradio dan mengenalkan alat-alatnya. Kami mendapatkan kesempatan untuk melakukan siaran radio di RURUradio, membahas projek-projek para peserta untuk final (pameran) sampai ke pembahasan random.


    Leave a comment

    Stay in Touch!

    Enter your email below to receive updates.

  • Video Art

    1–2 minutes

    (Sabtu, 30/03/2019) Pada pertemuan kali ini, para peserta saling sharing bersama Kak Erby dari OK. Video dan workshop membuat meme dengan IG story bersama kak Gelar Soemantri.

    Disesi pertama, Kak Erby menjelaskan mengenai video art yang ada kaitannya dengan televisi. Video yang dimaksud adalah bentuk kritikan atau parodinya yang bentuknya mengkritik dan beda dari yang pernah kita lihat pada umumnya. Misalnya, ada isu-isu sosial atau politik lalu diubah menjadi sebuah meme.

    Secara teknis, art di Indonesia punya gagasan dan ide yang diikuti oleh keinginan dan cara yang tidak biasa, contohnya bikin parabola menggunakan panci, masak mie pakai rice cooker, dll.

    Sesi kedua dilanjutkan oleh kak Gelar Soemantri, kami ditugaskan untuk membuat meme yang bertemakan politik. Kenapa harus politik? Karena, kebetulan saat itu adalah musim pilpres.

    Tapi, ini bukan meme yang biasa, kami membuat meme menggunakan tools IG story. Masing-masing dari kami membuat tiga meme dan hasil berserta penjelasannya dapat dilihat di IG account masing-masing.

    Descriptions

    “Nowadays in Indonesia, people more concern about their personal and some groups needs. Especially, since religion is being used for politic”.

    “They have power because they have money, they use it to the people that have low economic status and make many ‘promises’ then pay them to be in their sides”.

    “Whenever we speak our minds, we always got blocked by those ‘people’ just because they feel insulted”.


    Leave a comment

    Stay in Touch!

    Enter your email below to receive updates.

  • Sastra

    1–2 minutes

    (Sabtu, 23/03/2019) Pada pertemuan kali ini dibagi menjadi dua sesi, sesi yang pertama dibawakan oleh Kak Berto Tukan (Penulis). Beliau menjelaskan mengenai salah satu bagian dari sastra, yaitu puisi.

    Puisi tidak harus semuanya kata-kata indah, salah satu contohnya yaitu bentuk protes yang digunakan berupa kata-kata yang menunjukkan kemarahan.

    Puisi juga digunakanan sebagai cara untuk merefleksikan hidup kita dan bukan hanya puisi tetapi semua bentuk seni. Selain itu, puisi juga digunakan sebagai alat komunikasi dan terbentuknya ungkapan-ungkapan baru.

    Beliau juga menjelaskan, jika kita mau terjun menjadi seseorang pekerja seni (seniman) maka kita harus menekuni dan masuk ke dunia tersebut. Kita bisa memulai dengan pameran, dll.

    Seni itu memang sesuatu yang ribet tetapi mengasyikkan, contohnya dengan membentuk konser musik akan membuat banyak orang senang dan untuk mencapai tujuan itu sangatlah susah.

    Bayaran dari susahnya mencapai tujuan tersebut sangatlah sederhana. Dengan melihat orang lain senang dengan karya yang kita buat, kita turut merasa senang.

    Setelah sesi materi dan tanya-jawab, para peserta diberikan kesempatan untuk membuat puisi berdasarkan gambar yang kita pilih dan hasilnya dipresentasikan. (To be honest, this is my first time of making poetry. Waktu gue presentasikan hasilnya, Kak Berto said it’s a good poetry 😭).

    Dilajut dengan sesi kedua oleh Kak Jay (Sastrawan Malaysia), beliau membahas mengenai bagaimana sastra di Malaysia dan lebih difokuskan di kota Ipoh.

    Selain itu, beliau juga menjelaskan kepada kita, bahwa seni itu bukanlah sesuatu yang harus dipahami, melainkan sesuatu yang dirasakan.

    Misalnya dengan menonton penampilan musik ataupun seni lainnya, mungkin liriknya tidak terdengar jelas tetapi kita dapat merasakan apa yang disampaikan oleh seniman tersebut.

    Setelahnya, kami membentuk copy-paste poetry (salah satu cara membuat puisi dengan memotong kata-kata dari koran atau sumber lainnya dan secara acak tiap kata disusun dan jadilah puisi).

    Dari pertemuan ini dapat saya simpulkan, bahwa seni itu bukanlah suatu hal yang mudah, dibutuhkan kerja keras dan niat yang tinggi. Lakukan apa yang kamu suka dan tekuni itu.


    Leave a comment

    Stay in Touch!

    Enter your email below to receive updates.

  • GHH (Grafis Huru Hara)

    GHH (Grafis Huru Hara)

    1–2 minutes

    (Sabtu, 02/03/2019) Pada pertemuan yang ketiga, gue dipertemukan dengan GHH atau Grafis Huru Hara. Bersama kakak-kakak dari GHH kami dikenalkan dengan woodcut/rubbercut, mulai dari definisi umum sampai teknik-tekniknya. Para peserta diberikan kesempatan untuk membuat master sesuai dengan keinginnya masing-masing.

    Karena kita masih pemula, jadi kita diberikan media karet (rubbercut). Dalam proses mencukil membutuhkan waktu yang cukup banyak, terutama dalam hal memastikan bahwa kedalam mencukil itu sudah cukup dalam. Setelah mencukil, kita dapat mencetak master yang sudah dibuat di kertas ataupun media lainnya (kaus, tote bag, dll).

    Ternyata bikin rubbercut tidak mudah, tangan gue pegel banget selama proses mencukil. Dari posisi gue duduk sampai akhirnya berdiri.

    Gue agak menyesal karena sketch yang gue bikin itu awalnya di kertas bukan langsung di karetnya. As you know lah ya, kalo gambar yang diulang untuk kedua kalinya itu hasilnya selalu tidak memuaskan. (Punya gue yang ALIEN).

    Ditambah lagi gue lupa bawa kaus, jadinya cuma foto ini yang bisa jadi kenangan :’

    Dari proses membuat rubbercut ini gue belajar untuk menghargai proses dalam berkarya untuk mencapai sebuah kesempurnaan.


    Leave a comment

    Stay in Touch!

    Enter your email below to receive updates.

  • Jakarta 32°C

    Jakarta 32°C

    (Sabtu, 23/02/2019) Pertemuan kali ini, kami dipertemukan dengan Kak Ibam dari Jakarta 32°C. Kak Ibam mengajak kami semua untuk berdiskusi dan menceritakan berbagai macam pengalaman, mulai dari berorganisasi/forum, perspektif perkuliah, dll.

    Awalnya, kami membicarakan mengenai apa saja yang telah dilakukan oleh Jakarta 32°C, lalu berlanjut ke pengalaman berorganisasi sampai akhirnya membahas masalah “cewek”.

    Sampai akhirnya kami mencapai titik temu, yaitu mengenai kelangkaan pameran yang diadakan di sekolah-sekolah dalam hal pengapresiasian Seni Rupa dan Sastra, serta mengapa media tidak pernah ataupun jarang sekali memberitakan mengenai kreasi anak masa kini (khususnya Gen Z).

    Yang mana, media lebih banyak memberitakan sisi negatif dibandingkan dengan positifnya, seperti layaknya tawuran antar sekolah. Pada akhirnya membuat masyarakat memiliki mindset, bahwa anak masa kini tidak berkualitas.

    Padahal masih banyak di luar sana yang memiliki talenta dan karya tetapi tidak pernah diapresiasi. Maka dari itu, diharapkan dengan adanya program Remedial ini para peserta dapat mematahkan mindsets tersebut.


    Leave a comment

    Stay in Touch!

    Enter your email below to receive updates.

  • Program Remedial? Hasil ujiannya jelek?

    Program Remedial? Hasil ujiannya jelek?

    (Sabtu, 16/02/2019) Pada kegiatan kali ini, gue berkesempatan untuk mengikuti sebuah program studi Seni Rupa dan Sastra di Gudskul, yang terletak di Jagakarsa, Jakarta Selatan (dibelakangnya Ragunan).

    Menurut Pak Wacil, kepala sekolah Remedial, studio ini awalnya berada di daerah Pancoran dan pada akhirnya berpindah ke Jagakarsa.

    Nama dari program ini adalah “Remedial” yang ditujukan untuk siswa tingkat SMA dan sederajat untuk berdiskusi, berkreasi, dan mengapresiasi karya seni rupa dan literasi.

    First impressions:
    •  Tempatnya keren banget, sangat aesthetic. Banyak spots yang bagus untuk foto-foto.
    • Arsitekturnya unik, contohnya mereka menggunakan peti kemas sebagai studio di Gudskul.

    Pokoknya keren deh!!

    Di hari pertama dari pertemuan program Remedial yang dibuka oleh Pak Wacil, beliau mengenalkan kami mengenai lingkungan Gudskul yang terdiri dari banyak ruangan (ARTLAB, RURU SHOP, dll).

    Personally, gue suka banget sama nama-namanya yang membawa kesan bahwa ini profesional. Setelahnya, para peserta saling berdiskusi mengenai kehidupan di sekolah dan rencana perkuliahan.

    Dari kegiatan ini, gue sangat belajar banyak.

    Salah satunya, yaitu kita dapat berkarya tanpa batas dan penghalang. Tidak harus membuat sebuah lukisan seperti Van Gogh dan baru dapat dikatakan sebagai suatu seni, sebuah bungkus mie instan yang direnyukkan pun dapat dikatakan sebagai seni.

    Seni itu memang tidak ada batasan dan kriteria khusus, karena setiap orang memiliki perspektif yang unik.


    Leave a comment

    Stay in Touch!

    Enter your email below to receive updates.

  • Wen’s Secret Lab – Hannah Brigitta

    1–2 minutes

    Wen’s Secret Lab merupakan visualisasi dari laboratorium rahasia milik Efigenia Wen dalam novel The Lightworkers. Di dalam laboratorium ini terdapat jurnal-jurnal rahasia milik Wen yang disembunyikan olehnya. Selain itu, terdapat artefak-artefak dari cyborg hasil produksi Exvalso (mata cyborg, serum S.L.P.E., dan pengambaran cyborg)

    Wen’s Secret Lab is the visualization of Efigenia Wen’s secret laboratory in The Lightworkers. Inside this laboratory is filled with the private journals that she hides from everyone. Besides, there are few artefacts from the cyborgs produced by Exvalso, such as cyborg’s eyes, S.L.P.E. serum, and cyborg details.

    Wen’s Secret Lab dipamerkan sebagai gambaran seorang ilmuwan muda yang menciptakan cyborg di masa yang akan datang. Terdapat tiga tipe cyborg, yaitu SVX1008, SDY2000, dan SAZ500 yang memiliki fungsinya masing-masing.

    Wen’s Secret Lab exhibited as a portrait of a young scientist who invented cyborg in the future. There are three varieties of cyborgs: SVX1008, SDY2000, and SAZ500 which have their particular functions.

    Dalam proses pembuatan konsep Wen’s Secret Lab, Hannah Brigitta terinspirasi setelah menonton beberapa film-film dengan genre fiksi ilmiah yang disarankan oleh mentornya, Monica Hapsari. Dari hasil riset film yang ia tonton, terbentuklah laboratorium ini.

    In the process of conceptualizing Wen’s Secret Lab, Hannah Brigitta got inspired after watching several science-fiction films suggested by her mentor, Monica Hapsari, and this laboratory finally formed.

    Selain jurnal dan artefak cyborg, terdapat penjelasan mengenai tokoh yang ada di dalam novel dan rentangan waktu kejadian. Yang mana, poin-poin penting ini tidak dijelaskan secara mendetail di dalam novel tersebut.

    Wen’s Secret Lab also serves you the characters’ description and the period of the episode. Which, these crucial features are not well explained in the novel.


    Leave a comment

    Stay in Touch!

    Enter your email below to receive updates.

  • Helios Ávra – Hannah Brigitta

    Helios Ávra merupakan karya seni instalasi pertama dari Hannah Brigitta. Nama Helios Ávra diambil dari bahasa Yunani yang berarti matahari dan aura. Yang mana, keduanya merupakan bagian dari tokoh mitologi Yunani. Helios, dewa matahari. Ávra, dewi titan semilir angin dan udara sejuk di pagi hari.

    Helios Ávra is the first installation art by Hannah Brigitta. The name Helios Ávra taken from the Greek meaning of sun and aura. Which, both are part of the Greek mythological figures. Helios, the god of the sun. Ávra, the titan goddess of breezes and cool air in the morning.

    Di mata Hannah, matahari digambarkan seperti kelopak bunga mekar. Matahari diambil sebagai representatif dari sumber energi dalam jiwa manusia (mental). Enam warna (indigo, biru, hijau, kuning, jingga, dan merah) sebagai representatif dari aura manusia. Helios Ávra hadir untuk menggambarkan aura dan keseimbangan jiwa dari manusia.

    In Hannah’s eyes, the sun portrayed as a blooming flower petal. The sun is the representative of the energy source in the human soul (mental). There are six colours (indigo, blue, green, yellow, orange and red) representing human’s aura. Helios Ávra lives to represent the aura and balance of the soul of humans.

    Helios Ávra digagaskan oleh Hannah Brigitta setelah melakukan riset dengan dr Tb. Erwin Kusuma, SpKJ (K) (psikiater) dan Tom Suhalim (pakar aura). Selama tiga bulan, Hannah sempat sakit tanpa diagnosa. Sampai akhirnya, Hannah berkesempatan bertemu dengan dr Erwin dan menerangkan Hannah mengenai jiwa. Lalu, melakukan prosedur foto aura dengan Pak Tom yang memberikan hasil bahwa dirinya cenderung memiliki aura hijau (Indigo Humanis) dan terkadang muncul aura merah yang berarti kemarahan terpendam.

    Helios Ávra was invented by Hannah Brigitta after analyzed with Dr Tb. Erwin Kusuma, SpKJ (K) (psychiatrist) and Tom Suhalim (aura expert). For about three months, she was ill without any diagnosis. Until one day, she had the opportunity to meet Dr Erwin that explained her about the soul. Done an aura photo procedure with Mr Tom and the result showed that she tends to have a green aura (Humanist Indigo) with a red aura that sometimes appeared as the meaning of anger.

    Aura yang dimiliki Hannah menginspirasi dirinya untuk membuat Helios Ávra untuk memberitahukan, bahwa kita harus memiliki badan, jiwa, dan roh yang seimbang.

    Hannah’s aura inspired her to make Helios Ávra by telling us that we must have a balanced body, soul and spirit.


    Leave a comment

    Stay in Touch!

    Enter your email below to receive updates.

  • Cerita di Balik “The Lightworkers”

    Cerita di Balik “The Lightworkers”

    6–10 minutes

    Hampir satu tahun tidak nulis blog, stress ngurusin pameran dan sekolah. Akhirnya gue kembali lagi dengan membawakan sebuah blog mengenai pameran tunggal dan peluncuran novel gue, yaitu The Lightworkers.

    Pada tahun 2017, tepatnya setelah mengikuti ajang Abang None Buku Jakarta Utara 2017. Gue terinspirasi dari beberapa finalis yang ternyata sering menulis cerita di salah satu platform, Wattpad. Sejak saat itu, gue jadi ikutan nulis disitu.

    Entah mengapa, gue kepikiran buat nulis cerita hidup gue yang kelihatannya menarik. Lahirlah sebuah cerita yang awalnya gue kasih judul “Aku INDIGO”.

    Awal-awal cerita itu lebih fokus ke jalan cerita hidup gue sendiri dan beberapa plot gue karang sedikit biar lebih menarik.

    Satu kelemahan dalam proses berkarya gue selama di Wattpad, yaitu gue jarang banget update ceritanya. Dengan berbagai macam agenda, akhirnya tidak ada waktu buat ngurusin cerita sendiri.

    Karena awalnya iseng, gue tidak pernah kepikiran bahwa cerita ini mau gue seriusin. Jadi, selama proses pembuatan pula gue anggap sebagai hiburan dari kepenatan gue sekolah aja.

    Sampai pada awal tahun 2019, gue akhirnya punya keputusan konkret bahwa gue mau masuk FSRD. Kebetulan guru Seni Rupa gue baru aja ganti, dengan gue melihat peluang kalo guru baru pasti punya banyak relasi dan akhirnya itu memberanikan gue untuk minta tolong sama beliau. Namanya, Pak Abi Rafdi Aufar.

    Beliau juga jarang banget masuk kelas, katanya sih sering ditugasin sama sekolah. Kebetulan di suatu siang yang begitu terik dengan panas yang menyengat kulit, Pak Abi masuk. Langsunglah gue samperin ke depan meja guru dan bilang, “Pak, saya mau masuk FSRD!”.

    Gue masih inget banget, beliau kaget dengan pernyataan gue.

    Keesokan harinya, gue dipanggil beliau ke ruang guru. Nah, inilah awal mula semua ini terjadi.

    Beliau nawarin gue untuk ikut program studi Seni Rupa dan Sastra, yaitu Remedial. Karena gue beneran pengen banget masuk FSRD gue pun menyetujui tawaran beliau.

    Pulang dari sekolah gue langsung diskusi sama kedua orang tua gue, karena kebetulan juga tempatnya jauh dari rumah gue. Orang tua gue pun setuju dan gue selama kurang lebih satu minggu bolos les untuk menyiapkan portofolio yang diminta untuk pendaftaran peserta waktu itu.

    Kebetulan isi portofolio gue ada karya sastra dan seni rupanya, lengkap udah itu.

    Setelah menunggu beberapa waktu akhirnya pengumuman seleksi peserta Remedial keluar dan ada nama gue. Seneng banget sih itu, tidak bisa dideskripsikan seberapa bahagianya gue waktu dapet email dari Remedial.

    Waktu awal pertemuan gue kenalan sama peserta lainnya, gue melihat mereka keren-keren banget. Awalnya ikut kegiatan ini untuk fokus ke Seni Rupa karena gue mau masuk FSRD.

    Setelah beberapa pertemuan, karangan gue dilirik sama Remedial dan mereka menawarkan untuk menerbitkan karangan itu. Yang jelas, gue setuju. Like, siapa sih yang mau menolak kesempatan itu?

    Tapi sayang, tiap pertemuan pesertanya makin menyusut. Sampai pada saat presentasi Remedial yang pertama hanya tersisa lima peserta saja (Presentasi Pertama Remedial 2019)

    Sebuah momen saat presentasi itu adalah saatnya pemaparan konsep pameran nanti dan pemberitahuan mentor untuk setiap peserta.

    Dari kita berlima, cuma gue yang belum ada mentornya saat itu. I’m kinda sad at that time. But, I can understand the situation sih karena mereka tidak mau salah bimbingan.

    Beberapa hari setelah presentasi Remedial yang pertama, gue dihubungin via WA dan dikabarin bahwa gue udah dapet mentor. GUE TERIAK KESENANGAN PAS BACA KALO MENTOR GUE MONICA HAPSARI!!!!!

    WAH GILA SIH… SPEECHLESS.

    Gue dikasih kontaknya dan gue nunggu beberapa hari buat hubungin Kak Monic, jujur aja gue nervous duluan LMAO. Gue sampe ngetik di notes dulu dan nanya ke Bokap gue kalo kalimatnya bener apa tidak. Iya, gue segugup itu. Malu banget gue jelasinnya, LOL.

    Akhirnya, gue kirim pesan ke Kak Monic. Gugup nunggu dibales. Tangan jadi dingin. Gue tidak bisa diem di tempat. Memantau hp gue.

    Pas pesan gue dibales, gue kesenengan tidak jelas terus bingung mau bales apa. Sampai akhirnya, pertemuan gue pertama kali sama Kak Monic itu di rumahnya. Baik banget orangnya :’))))).

    Gue selama di rumah Kak Monic ditemenin sama bokap sampe pulang. Bisa dibilang, gue sama Kak Monic ngobrol seharian dan itu non-stop. SERU BANGET DONG NGOBROLNYA, NGALIR KAYAK ARUS LISTRIK.

    Dari hasil gue ngobrol sama Kak Monic, gue dapet banyak banget ide-ide baru buat cerita gue. Salah satunya adalah perubahan judul dari “Aku INDIGO” menjadi “The Lightworkers” (ini juga menjadi salah satu bahan pameran kemarin).

    Dengan banyaknya referensi yang gue dapatkan dari Kak Monic, gue nyari waktu setelah pulang sekolah dan setiap weekend untuk research bahan-bahan yang dikasih dari beliau.

    Sayangnya, ditengah-tengah proses pembuatan karya gue sakit. Sakit selama tiga bulan dan tanpa diagnosa. Awalnya gue udah putus asa karena tidak bisa melanjutkan karya.

    Apalah daya, mau napas aja susah.

    Selama tiga bulan itu gue tidak sekolah dan tidak les, hampir setiap hari gue nangis. Stress. Depresi berat. Hopeless. Takut. Cemas. Non-stop konsumsi obat.

    Khususnya yang paling gue takutkan adalah urusan sama sekolah, gue stress banget mikirinnya. Setelah satu bulan stress mikirin tidak bisa sekolah dan tugas yang numpuk, dokter suruh gue untuk let go dulu semua urusan termasuk pameran.

    Bahkan, gue udah ada kepikiran untuk mundur dari program Remedial. Awalnya tanggal pameran itu sekitar pertengahan Desember 2019.

    Pas banget di awal November 2019 gue mau ngabarin kalo gue mau mengundurkan diri, tapi ternyata Tuhan berkata lain. Gue dikabarin kalo pamerannya diundur jadi bulan Januari karena ada Open House.

    Gue seneng banget. Gue masih bisa menaruh harapan kalo bulan Januari nanti gue tetap bisa pameran.

    Hanya orang tua, teman-teman, Pak Abi, dan Pak Wacil Wahyudi (Kepala Sekolah Remedial) yang selalu ngedukung dan semangatin gue untuk tetap semangat dan berjuang untuk sembuh.

    Malam itu di awal bulan Desember 2019 setelah dari dokter untuk kesekian kalinya, gue sama bokap gue makan di salah satu tempat makan di daerah Tangerang Selatan. Selama perjalanan ke tempat makan, gue kepikiran akan sesuatu hal.

    Gue minta kertas sama pulpen ke bokap gue, terus gue gambar dan terbentuklah “Helios Ávra”.

    (Helios Ávra)

    Asal muasal Helios Ávra sendiri bisa dibilang cukup kelam, yang mana itu menjadi sebuah karya yang muncul disaat gue sakit dan mental gue juga tidak beres saat itu.

    Sekarang Helios Ávra sudah menjadi sebuah bagian penting dalam peristiwa di kehidupan gue pribadi. Helios Ávra mengingatkan gue terhadap kesedihan  dan kekecewaan gue selama hampir tiga tahun pengerjaan karya ini.

    Akhirnya, di minggu-minggu terakhir sekolah gue semangatin diri gue lagi untuk masuk sekolah. Walaupun tidak bisa lama-lama, setidaknya gue udah berusaha dan seneng bisa balik lagi menginjak tanah sekolah. Urusan sekolah akhirnya selesai dan gue mulai semangatin diri gue lagi untuk selesain naskah dan karya pameran nanti.

    Naskah pun akhirnya terselesaikan pada pertengahan Desember 2019.

    Karena otak gue udah tidak ada inspirasi lagi buat bahan pameran nanti, gue akhirnya pergi liburan sekalian buat terapi mental gue yang hancur habis-habisan selama tiga bulan itu.

    Sebenarnya, dari November 2019 dokter sudah menyarankan gue untuk pergi liburan. Tapi, dengan syarat bahwa semua urusan gue harus diberesin dulu.

    Karena urusan sekolah dan naskah gue rasa sudah cukup. Akhirnya, gue sekeluarga pergi jalan-jalan ke Bali. Tidak tahu kenapa tapi yang terlintas di otak gue adalah Bali.

    Desember 2019 menjadi momen yang paling berkesan banget di dalam kehidupan gue selama tahun 2019. Semua mulai berubah di bulan itu, seakan-akan Tuhan sudah nyiapin surprise buat gue (Therapy). Setelah gue hancur berkeping-keping di awal 2019 ternyata ada sesuatu di akhir 2019.

    Hidup gue mulai berubah sejak gue ke Bali dan ketemu sama Pak Ucok Silitonga dan keluarganya.

    Di tahun 2020, semua mulai berubah perlahan. Gue bener-bener bisa ngerasain apa itu bahagia yang sebenarnya. Rasa yang selama ini gue dambakan akhirnya bisa gue rasakan.

    Satu hari setelah tahun baru gue balik ke Jakarta, gue mulai lanjutin karya gue lagi. Di saat deadline sudah mau mendekat dan karya belum selesai juga, gue dikabarin lagi kalo pamerannya jadinya bulan Februari 2020. KEREN BANGET GK SIH?!? BISA PAS BANGET :’))

    Di bulan Januari 2020, gue akhirnya ketemu sama kurator gue, Kak Rifandi Nugroho. Disini gue dikabarin kalo yang pameran tinggal dua peserta aja. Sad banget 😥

    Setelah banyak berbincang dengan Kak Rifandi, muncullah sebuah gagasan untuk masukin arsip selama gue sakit. Hasil röntgen, dll pun dimasukan ke pameran gue.

    (Wen’s Secret Lab)

    Sampai akhirnya sudah tinggal satu minggu sebelum pameran, gue dikabarin kalo gue jadinya pameran sendiri aka pameran tunggal.

    Waktu nyebarin posternya di sosmed gue sama sekali tidak sadar kalo tulisannya itu pameran tunggal. Gue baru sadar pas gue di-DM sama Pak Abi LOL.

    Gue jadi tambah nervous, karena gue bakalan pameran sendiri. Gue tidak tahu harus apa nanti.

    Akhirnya, pembukaan pameran tunggal dan peluncuran buku berlangsung lancar. Gue seneng banget. Tidak tahu mau ngomong apa lagi. Setiap ada yang nanya, gue udah kehabisan kata-kata kalo ngebahas perjalanan gue untuk sampai ke titik ini.

    Beberapa hari setelahnya, gue dikabarin sama temen gue kalo pameran gue masuk ke agenda DISPAREKRAF DKI JAKARTA, gue panik dong.

    Begitulah kurang lebih, kisah dibalik proses pengerjaan karya The Lightworkers ini. Dari sebuah novel menjadi sebuah titik tolak gue untuk menciptakan karya seni rupa dan pameran tunggal.

    Selama satu tahun mengabdi di ABNONKU JAKUT (2017-2018) gue punya proker saat itu, yang mana gue mau gabungin literasi dengan dunia seni. Sempet jalan sih, tapi kurang maksimal. Mungkin karena saat itu ABNONKU tugasnya di RPTRA yang mana isinya adalah anak-anak.

    Sekarang, proker itu sudah bisa gue realisasi sendiri dan gue bangga.

    2017-2020

    Sampai ketemu di blog selanjutnya!


    Leave a comment

    Stay in Touch!

    Enter your email below to receive updates.