Category: Art

  • Greetings from Bali!

    Greetings from Bali!

    2–3 minutes

    As promised, I present to you my recent update in Bali.

    Seperti yang dijanjikan, gue persembahkan update terbaru gue di Bali.

    The last time I came to Bali was in December 2019 — two months before Corona strikes Indonesia. To be honest with you all, I have never planned to study in Bali — as it never crosses my mind. When I was in Bali around December 2019, my Dad and I were joking around about having an art studio in Bali. We thought it was cool to build an art studio here.

    Terakhir kali gue ke Bali itu di bulan Desember 2019 — dua bulan sebelum Corona menyerang Indonesia. Sejujurnya, gue tidak pernah berencana untuk kuliah di Bali — karena memang hal itu tidak pernah terlintas di benak gue. Ketika gue di Bali sekitar bulan Desember 2019 itu, gue dan bokap gue cuma asal bercanda saja tentang kalau gue misalnya punya studio seni di Bali. Kita berpikir kalau bangun studio seni di sini kayaknya enak.

    I did some research about art school in Indonesia during my gap year. For years, I thought ISI, Institut Seni Indonesia, is only in Yogyakarta. I do not remember how come I find out *ISI Denpasar. My bad.

    *Indonesian Institute of the Arts Denpasar abbreviated as ISI Denpasar is a college of art organized by the Ministry of National Education which is under and directly responsible to the Minister of National Education. (Source: Wikipedia)

    Gue melakukan beberapa riset mengenai sekolah seni di Indonesia di saat gue gap year. Selama bertahun-tahun, gue pikir ISI, Institut Seni Indonesia, cuma ada di Yogyakarta. Gue juga tidak ingat bagaimana gue bisa menemukan ISI Denpasar. My bad.

    I was amazed when I looked up ISI Denpasar on Google. The school is gorgeous, as it looks like a castle. I suddenly fell in love with the school and could not wait to get back to Bali.

    Gue terkesima saat mencari ISI Denpasar di Google. Kampusnya sangat indah, karena terlihat seperti kastil. Gue tiba-tiba langsung jatuh cinta dengan kampusnya dan tidak sabar untuk kembali ke Bali.

    I always felt like there was a calling for me to stay in Bali. I hope to be in a better mental state and get the best art study. I still can not believe that I am in Bali to study.

    Gue selalu merasa seperti ada panggilan buat gue untuk tinggal di Bali. Gue berharap untuk berada dalam kondisi mental yang lebih baik dan mendapatkan studi seni terbaik. Gue masih tidak percaya bahwa Gue sekarang ada di Bali untuk belajar.

    I think this is enough update. For now. See ya later!

    Sepertinya ini update yang cukup. Untuk saat ini. Sampai jumpa lagi!


    Leave a comment

    Stay in Touch!

    Enter your email below to receive updates.

  • Pendaftaran Art Career Day 2021 Telah Dibuka!

    Pendaftaran Art Career Day 2021 Telah Dibuka!

    1–2 minutes

    Mau jadi seniman tapi bingung harus bagaimana? Atau kamu penasaran bagaimana berkarier di dunia seni? Gudskul mempersembahkan “ART CAREER DAY 2021: KARIER SENI RUPA DI INDONESIA”!

    Art Career Day 2021 akan menjadi program yang cocok banget buat kamu yang berminat mendalami profesi di bidang seni!

    Akan ada:

    •Webinar GRATIS via Google Meet

    • Remedial Arts Career Advisory (RACA) sebagai layanan career counselling bersama profesional

    Acara ini akan diadakan pada tanggal 5 dan 6 Februari 2021

    Bersama: Muchlis Fachri, Angga Cipta, Ella Wijt, M. Sigit Budi Santoso, Christine Toelle, dan Gesyada Siregar

    Tunggu apa lagi? Segera daftarkan diri kamu dan rasakan semua fasilitasnya hanya di Art Career Day 2021!

    Klik di sini untuk mendaftar!

    Kunjungi kami di @remedial_s dan website resmi remedial.id


    Leave a comment

    Stay in Touch!

    Enter your email below to receive updates.

  • Wen’s Secret Lab – Hannah Brigitta

    1–2 minutes

    Wen’s Secret Lab merupakan visualisasi dari laboratorium rahasia milik Efigenia Wen dalam novel The Lightworkers. Di dalam laboratorium ini terdapat jurnal-jurnal rahasia milik Wen yang disembunyikan olehnya. Selain itu, terdapat artefak-artefak dari cyborg hasil produksi Exvalso (mata cyborg, serum S.L.P.E., dan pengambaran cyborg)

    Wen’s Secret Lab is the visualization of Efigenia Wen’s secret laboratory in The Lightworkers. Inside this laboratory is filled with the private journals that she hides from everyone. Besides, there are few artefacts from the cyborgs produced by Exvalso, such as cyborg’s eyes, S.L.P.E. serum, and cyborg details.

    Wen’s Secret Lab dipamerkan sebagai gambaran seorang ilmuwan muda yang menciptakan cyborg di masa yang akan datang. Terdapat tiga tipe cyborg, yaitu SVX1008, SDY2000, dan SAZ500 yang memiliki fungsinya masing-masing.

    Wen’s Secret Lab exhibited as a portrait of a young scientist who invented cyborg in the future. There are three varieties of cyborgs: SVX1008, SDY2000, and SAZ500 which have their particular functions.

    Dalam proses pembuatan konsep Wen’s Secret Lab, Hannah Brigitta terinspirasi setelah menonton beberapa film-film dengan genre fiksi ilmiah yang disarankan oleh mentornya, Monica Hapsari. Dari hasil riset film yang ia tonton, terbentuklah laboratorium ini.

    In the process of conceptualizing Wen’s Secret Lab, Hannah Brigitta got inspired after watching several science-fiction films suggested by her mentor, Monica Hapsari, and this laboratory finally formed.

    Selain jurnal dan artefak cyborg, terdapat penjelasan mengenai tokoh yang ada di dalam novel dan rentangan waktu kejadian. Yang mana, poin-poin penting ini tidak dijelaskan secara mendetail di dalam novel tersebut.

    Wen’s Secret Lab also serves you the characters’ description and the period of the episode. Which, these crucial features are not well explained in the novel.


    Leave a comment

    Stay in Touch!

    Enter your email below to receive updates.

  • Helios Ávra – Hannah Brigitta

    Helios Ávra merupakan karya seni instalasi pertama dari Hannah Brigitta. Nama Helios Ávra diambil dari bahasa Yunani yang berarti matahari dan aura. Yang mana, keduanya merupakan bagian dari tokoh mitologi Yunani. Helios, dewa matahari. Ávra, dewi titan semilir angin dan udara sejuk di pagi hari.

    Helios Ávra is the first installation art by Hannah Brigitta. The name Helios Ávra taken from the Greek meaning of sun and aura. Which, both are part of the Greek mythological figures. Helios, the god of the sun. Ávra, the titan goddess of breezes and cool air in the morning.

    Di mata Hannah, matahari digambarkan seperti kelopak bunga mekar. Matahari diambil sebagai representatif dari sumber energi dalam jiwa manusia (mental). Enam warna (indigo, biru, hijau, kuning, jingga, dan merah) sebagai representatif dari aura manusia. Helios Ávra hadir untuk menggambarkan aura dan keseimbangan jiwa dari manusia.

    In Hannah’s eyes, the sun portrayed as a blooming flower petal. The sun is the representative of the energy source in the human soul (mental). There are six colours (indigo, blue, green, yellow, orange and red) representing human’s aura. Helios Ávra lives to represent the aura and balance of the soul of humans.

    Helios Ávra digagaskan oleh Hannah Brigitta setelah melakukan riset dengan dr Tb. Erwin Kusuma, SpKJ (K) (psikiater) dan Tom Suhalim (pakar aura). Selama tiga bulan, Hannah sempat sakit tanpa diagnosa. Sampai akhirnya, Hannah berkesempatan bertemu dengan dr Erwin dan menerangkan Hannah mengenai jiwa. Lalu, melakukan prosedur foto aura dengan Pak Tom yang memberikan hasil bahwa dirinya cenderung memiliki aura hijau (Indigo Humanis) dan terkadang muncul aura merah yang berarti kemarahan terpendam.

    Helios Ávra was invented by Hannah Brigitta after analyzed with Dr Tb. Erwin Kusuma, SpKJ (K) (psychiatrist) and Tom Suhalim (aura expert). For about three months, she was ill without any diagnosis. Until one day, she had the opportunity to meet Dr Erwin that explained her about the soul. Done an aura photo procedure with Mr Tom and the result showed that she tends to have a green aura (Humanist Indigo) with a red aura that sometimes appeared as the meaning of anger.

    Aura yang dimiliki Hannah menginspirasi dirinya untuk membuat Helios Ávra untuk memberitahukan, bahwa kita harus memiliki badan, jiwa, dan roh yang seimbang.

    Hannah’s aura inspired her to make Helios Ávra by telling us that we must have a balanced body, soul and spirit.


    Leave a comment

    Stay in Touch!

    Enter your email below to receive updates.