(Sabtu, 02/03/2019) Pada pertemuan yang ketiga, gue dipertemukan dengan GHH atau Grafis Huru Hara. Bersama kakak-kakak dari GHH kami dikenalkan dengan woodcut/rubbercut, mulai dari definisi umum sampai teknik-tekniknya. Para peserta diberikan kesempatan untuk membuat master sesuai dengan keinginnya masing-masing.
Karena kita masih pemula, jadi kita diberikan media karet (rubbercut). Dalam proses mencukil membutuhkan waktu yang cukup banyak, terutama dalam hal memastikan bahwa kedalam mencukil itu sudah cukup dalam. Setelah mencukil, kita dapat mencetak master yang sudah dibuat di kertas ataupun media lainnya (kaus, tote bag, dll).
Ternyata bikin rubbercut tidak mudah, tangan gue pegel banget selama proses mencukil. Dari posisi gue duduk sampai akhirnya berdiri.
Gue agak menyesal karena sketch yang gue bikin itu awalnya di kertas bukan langsung di karetnya. As you know lah ya, kalo gambar yang diulang untuk kedua kalinya itu hasilnya selalu tidak memuaskan. (Punya gue yang ALIEN).
Ditambah lagi gue lupa bawa kaus, jadinya cuma foto ini yang bisa jadi kenangan :’
Dari proses membuat rubbercut ini gue belajar untuk menghargai proses dalam berkarya untuk mencapai sebuah kesempurnaan.
(Sabtu, 23/02/2019) Pertemuan kali ini, kami dipertemukan dengan Kak Ibam dari Jakarta 32°C. Kak Ibam mengajak kami semua untuk berdiskusi dan menceritakan berbagai macam pengalaman, mulai dari berorganisasi/forum, perspektif perkuliah, dll.
Awalnya, kami membicarakan mengenai apa saja yang telah dilakukan oleh Jakarta 32°C, lalu berlanjut ke pengalaman berorganisasi sampai akhirnya membahas masalah “cewek”.
Sampai akhirnya kami mencapai titik temu, yaitu mengenai kelangkaan pameran yang diadakan di sekolah-sekolah dalam hal pengapresiasian Seni Rupa dan Sastra, serta mengapa media tidak pernah ataupun jarang sekali memberitakan mengenai kreasi anak masa kini (khususnya Gen Z).
Yang mana, media lebih banyak memberitakan sisi negatif dibandingkan dengan positifnya, seperti layaknya tawuran antar sekolah. Pada akhirnya membuat masyarakat memiliki mindset, bahwa anak masa kini tidak berkualitas.
Padahal masih banyak di luar sana yang memiliki talenta dan karya tetapi tidak pernah diapresiasi. Maka dari itu, diharapkan dengan adanya program Remedial ini para peserta dapat mematahkan mindsets tersebut.
(Sabtu, 16/02/2019) Pada kegiatan kali ini, gue berkesempatan untuk mengikuti sebuah program studi Seni Rupa dan Sastra di Gudskul, yang terletak di Jagakarsa, Jakarta Selatan (dibelakangnya Ragunan).
Menurut Pak Wacil, kepala sekolah Remedial, studio ini awalnya berada di daerah Pancoran dan pada akhirnya berpindah ke Jagakarsa.
Nama dari program ini adalah “Remedial” yang ditujukan untuk siswa tingkat SMA dan sederajat untuk berdiskusi, berkreasi, dan mengapresiasi karya seni rupa dan literasi.
First impressions:
• Tempatnya keren banget, sangat aesthetic. Banyak spots yang bagus untuk foto-foto.
• Arsitekturnya unik, contohnya mereka menggunakan peti kemas sebagai studio di Gudskul.
Pokoknya keren deh!!
Di hari pertama dari pertemuan program Remedial yang dibuka oleh Pak Wacil, beliau mengenalkan kami mengenai lingkungan Gudskul yang terdiri dari banyak ruangan (ARTLAB, RURU SHOP, dll).
Personally, gue suka banget sama nama-namanya yang membawa kesan bahwa ini profesional. Setelahnya, para peserta saling berdiskusi mengenai kehidupan di sekolah dan rencana perkuliahan.
Dari kegiatan ini, gue sangat belajar banyak.
Salah satunya, yaitu kita dapat berkarya tanpa batas dan penghalang. Tidak harus membuat sebuah lukisan seperti Van Gogh dan baru dapat dikatakan sebagai suatu seni, sebuah bungkus mie instan yang direnyukkan pun dapat dikatakan sebagai seni.
Seni itu memang tidak ada batasan dan kriteria khusus, karena setiap orang memiliki perspektif yang unik.
Beberapa minggu lagi gue akan melaksanakan UN (Ujian Nasional). Padahal berharap bisa ikut AKM (Asesmen Kompetensi Minimum)😞. Minggu ini gue lagi ngejalanin Ujian Sekolah. Gue nulis ini untuk menyalurkan kepenatan. Sekalian mau sharing juga mengenai pilihan jurusan saat SMA.
Mungkin banyak dari kalian yang mau masuk SMA terus bingung mau pilih jurusan apa, tenang kalian tidak sendirian. Gue pula salah satunya.
Sebenarnya, kalo mau ngebahas pilihan jurusan saat SMA itu menurut gue lumayan kompleks sih. Soalnya, selama gue menjalankan pilihan itu, ternyata tidak semudah yang gue bayangkan.
Waktu SMP, gue sama sekali tidak pernah mikirin mau ngambil jurusan apa saat SMA nanti. Yang gue lakukan selama SMP cuma belajar, belajar, dan belajar. Sampai tiba di suatu titik, yang mana gue harus membuat keputusan untuk masa depan gue sendiri.
Beberapa bulan sebelum UN, sekolah gue mengadakan tes minat bakat bersama salah satu lembaga psikologi untuk membantu para siswa yang bingung dan labil dalam memilih tujuan pendidikan selanjutnya.
Dari hasil tes yang sudah gue jalankan, gue mendapatkan rekomendasi untuk masuk SMA jurusan MIPA. Gue awalnya agak heran kenapa gue direkomendasikan untuk milih jurusan itu. Tapi, balik lagi gue beneran buta banget sama ruang lingkup SMA jadi gue ngikut aja sama hasilnya.
Selama pendaftaran PPDB, gue sama kedua orang tua gue sempat berdiskusi perihal pemilihan jurusan.
Awalnya, gue mau pilih jurusan Bahasa. Dengan alasan gue tidak mau pusing dan terbebani. Karena memang skill gue yang selama ini menonjol ialah di bidang linguistik.
Tetapi, setelah dipikir-pikir gue orangnya gampang bosan kalo tidak ada tantangan. Jadinya, gue tidak jadi mengambil jurusan Bahasa.
Keputusan kedua, pilih jurusan sesuai yang direkomendasikan, yaitu MIPA.
Last minutes banget, bokap gue sempat menyarankan untuk pilih IPS aja. Tapi, tidak tahu kenapa gue merasa gigih banget harus ambil MIPA. Walaupun, gue sebenarnya tidak tahu kalo pilihan yang gue pilih ini bakalan menjadi sebuah “beban” yang menguntungkan.
Gue akhirnya daftar PPDB SMA dengan jurusan MIPA dan diterima.
Gue mau spill my own tea, sebenarnya setelah satu bulan gue di SMA dengan jurusan yang gue pilih itu, gue langsung merasa tidak minat untuk menekuninya lagi. Bisa dibilang gue salah jurusan.
Apalagi setelah mengikuti ajang Abang None Buku waktu itu yang membuat gue merasa semakin berbeda dari teman-teman gue.
Bahkan, karena gue berhasil masuk Top 5 pada ajang Abang None Buku, pihak sekolah sempat kasih privilege ke gue untuk pindah jurusan ke IPS.
Apakah gue pidah? Jelas tidak.
Gue tetap gigih untuk menetap di MIPA. Karena, gue selalu punya prinsip akan apapun keputusan yang sudah gue ambil, keputusan itu harus gue jalankan sampai selesai.
Walaupun pada akhirnya gue jadi sering sakit selama SMA karena gue sebenarnya tidak kuat.
Gue bisa mengikut pelajarannya, tetapi gue punya limit.
Pastinya, limit yang gue miliki ini sangat berbanding jauh daripada murid-murid jurusan MIPA lainnya.
Sampai masuk ke sebuah fase, yang mana gue akhirnya bisa menemukan jati diri gue. Jati diriku adalah Seni.
Menemukan jati diri itu lumayan memakan waktu yang cukup lama dan butuh lingkungan yang mendukung juga. Gue merasa beruntung karena lingkungan gue sangat memadai untuk membuat gue berhasil menemukan bagian dari diri gue yang selama ini terkubur.
Suatu saat, setelah gue tidak masuk selama berminggu-minggu, guru Bahasa Indonesia gue sempat menanyakan tentang diri gue. Gue pun memberikan jawaban kalau gue sedang mengasah kembali kemampuan gue di bidang seni.
Beliau kaget, karena dia bingung kenapa anak seni masuk MIPA. Standarnya anak seni biasanya mengambil IPS, tapi gue malah bikin dunia sendiri.
Beruntungnya, beliau bisa membuat kesimpulan atas keputusan gue. Beliau bilang, gue masuk MIPA untuk mengasah logika, yang mana gue tahu dan sadari kalo gue memang kurang dalam hal itu. Dengan mengambil MIPA gue jadi memiliki pemikiran-pemikiran yang lebih presisi, jelas, dan logis.
Bisa dibilang, gue merasa lebih pintar :v
“Terus, kalo fokus ke Seni, ilmu selama tiga tahun di MIPA sia-sia dong?”
Gurl, pernah baca dan dengar pepatah bahwa tidak ada ilmu yang sia-sia, bukan? Gue dapat banyak banget komentar kayak gini dari teman-teman gue, tetapi gue akan selalu balikin dengan pepatah itu.
Justru karena gue tahu gue kurang di MIPA, maka dari itu gue memilih jurusan MIPA. Gue tidak mau otak gue cuma bisa yang itu saja, tapi gue mau daya otak gue untuk berkembang.
Mungkin ya kalau dilihat dari sisi akademis (nilai), gue tergolong murid yang biasa saja. Bukan murid jenius, karena memang itu bukan bidang gue.
Bukan hanya daya otak saja yang menguntungkan gue, tetapi juga untuk masa depan gue kelak. Khususnya, bidang seni yang pastinya harus maju dengan IPTEK dan beruntungnya gue bisa dapat kesempatan untuk belajar MIPA yang membuat gue kurang lebih bisa paham sama dunia science.
Kelak di masa yang akan datang gue bisa mengkombinasikan seni dan science menjadi sebuah seni kontemporer.
Diambil dari pengalaman gue dalam mengerjakan karya untuk pameran perdana gue “The Lightworkers“, riset yang gue lakukan bisa sampai se-detail itu dan karena terbiasa di MIPA untuk memberikan alasan logis, karya gue pula memiliki alasan yang jelas akan mengapa suatu karya itu diciptakan.
Mulai sekarang, jangan takut salah jurusan karena pastinya akan ada hal baik dari pilihan itu. Yang jelas, serahkan semua ke tangan Tuhan. Karena Tuhan pasti punya rencana yang terbaik dari rancangan apapun.
Wen’s Secret Lab merupakan visualisasi dari laboratorium rahasia milik Efigenia Wen dalam novel The Lightworkers. Di dalam laboratorium ini terdapat jurnal-jurnal rahasia milik Wen yang disembunyikan olehnya. Selain itu, terdapat artefak-artefak dari cyborg hasil produksi Exvalso (mata cyborg, serum S.L.P.E., dan pengambaran cyborg)
Wen’s Secret Lab is the visualization of Efigenia Wen’s secret laboratory in The Lightworkers. Inside this laboratory is filled with the private journals that she hides from everyone. Besides, there are few artefacts from the cyborgs produced by Exvalso, such as cyborg’s eyes, S.L.P.E. serum, and cyborg details.
Wen’s Secret Lab dipamerkan sebagai gambaran seorang ilmuwan muda yang menciptakan cyborg di masa yang akan datang. Terdapat tiga tipe cyborg, yaitu SVX1008, SDY2000, dan SAZ500 yang memiliki fungsinya masing-masing.
Wen’s Secret Lab exhibited as a portrait of a young scientist who invented cyborg in the future. There are three varieties of cyborgs: SVX1008, SDY2000, and SAZ500 which have their particular functions.
Dalam proses pembuatan konsep Wen’s Secret Lab, Hannah Brigitta terinspirasi setelah menonton beberapa film-film dengan genre fiksi ilmiah yang disarankan oleh mentornya, Monica Hapsari. Dari hasil riset film yang ia tonton, terbentuklah laboratorium ini.
In the process of conceptualizing Wen’s Secret Lab, Hannah Brigitta got inspired after watching several science-fiction films suggested by her mentor, Monica Hapsari, and this laboratory finally formed.
Selain jurnal dan artefak cyborg, terdapat penjelasan mengenai tokoh yang ada di dalam novel dan rentangan waktu kejadian. Yang mana, poin-poin penting ini tidak dijelaskan secara mendetail di dalam novel tersebut.
Wen’s Secret Lab also serves you the characters’ description and the period of the episode. Which, these crucial features are not well explained in the novel.
Helios Ávra merupakan karya seni instalasi pertama dari Hannah Brigitta. Nama Helios Ávra diambil dari bahasa Yunani yang berarti matahari dan aura. Yang mana, keduanya merupakan bagian dari tokoh mitologi Yunani. Helios, dewa matahari. Ávra, dewi titan semilir angin dan udara sejuk di pagi hari.
Helios Ávra is the first installation art by Hannah Brigitta. The name Helios Ávra taken from the Greek meaning of sun and aura. Which, both are part of the Greek mythological figures. Helios, the god of the sun. Ávra, the titan goddess of breezes and cool air in the morning.
Di mata Hannah, matahari digambarkan seperti kelopak bunga mekar. Matahari diambil sebagai representatif dari sumber energi dalam jiwa manusia (mental). Enam warna (indigo, biru, hijau, kuning, jingga, dan merah) sebagai representatif dari aura manusia. Helios Ávra hadir untuk menggambarkan aura dan keseimbangan jiwa dari manusia.
In Hannah’s eyes, the sun portrayed as a blooming flower petal. The sun is the representative of the energy source in the human soul (mental). There are six colours (indigo, blue, green, yellow, orange and red) representing human’s aura. Helios Ávra lives to represent the aura and balance of the soul of humans.
Helios Ávra digagaskan oleh Hannah Brigitta setelah melakukan riset dengan dr Tb. Erwin Kusuma, SpKJ (K) (psikiater) dan Tom Suhalim (pakar aura). Selama tiga bulan, Hannah sempat sakit tanpa diagnosa. Sampai akhirnya, Hannah berkesempatan bertemu dengan dr Erwin dan menerangkan Hannah mengenai jiwa. Lalu, melakukan prosedur foto aura dengan Pak Tom yang memberikan hasil bahwa dirinya cenderung memiliki aura hijau (Indigo Humanis) dan terkadang muncul aura merah yang berarti kemarahan terpendam.
Helios Ávra was invented by Hannah Brigitta after analyzed with Dr Tb. Erwin Kusuma, SpKJ (K) (psychiatrist) and Tom Suhalim (aura expert). For about three months, she was ill without any diagnosis. Until one day, she had the opportunity to meet Dr Erwin that explained her about the soul. Done an aura photo procedure with Mr Tom and the result showed that she tends to have a green aura (Humanist Indigo) with a red aura that sometimes appeared as the meaning of anger.
Aura yang dimiliki Hannah menginspirasi dirinya untuk membuat Helios Ávra untuk memberitahukan, bahwa kita harus memiliki badan, jiwa, dan roh yang seimbang.
Hannah’s aura inspired her to make Helios Ávra by telling us that we must have a balanced body, soul and spirit.
Hampir satu tahun tidak nulis blog, stress ngurusin pameran dan sekolah. Akhirnya gue kembali lagi dengan membawakan sebuah blog mengenai pameran tunggal dan peluncuran novel gue, yaitu TheLightworkers.
Pada tahun 2017, tepatnya setelah mengikuti ajang Abang None Buku Jakarta Utara 2017. Gue terinspirasi dari beberapa finalis yang ternyata sering menulis cerita di salah satu platform, Wattpad. Sejak saat itu, gue jadi ikutan nulis disitu.
Entah mengapa, gue kepikiran buat nulis cerita hidup gue yang kelihatannya menarik. Lahirlah sebuah cerita yang awalnya gue kasih judul “Aku INDIGO”.
Awal-awal cerita itu lebih fokus ke jalan cerita hidup gue sendiri dan beberapa plot gue karang sedikit biar lebih menarik.
Satu kelemahan dalam proses berkarya gue selama di Wattpad, yaitu gue jarang banget update ceritanya. Dengan berbagai macam agenda, akhirnya tidak ada waktu buat ngurusin cerita sendiri.
Karena awalnya iseng, gue tidak pernah kepikiran bahwa cerita ini mau gue seriusin. Jadi, selama proses pembuatan pula gue anggap sebagai hiburan dari kepenatan gue sekolah aja.
Sampai pada awal tahun 2019, gue akhirnya punya keputusan konkret bahwa gue mau masuk FSRD. Kebetulan guru Seni Rupa gue baru aja ganti, dengan gue melihat peluang kalo guru baru pasti punya banyak relasi dan akhirnya itu memberanikan gue untuk minta tolong sama beliau. Namanya, Pak Abi Rafdi Aufar.
Beliau juga jarang banget masuk kelas, katanya sih sering ditugasin sama sekolah. Kebetulan di suatu siang yang begitu terik dengan panas yang menyengat kulit, Pak Abi masuk. Langsunglah gue samperin ke depan meja guru dan bilang, “Pak, saya mau masuk FSRD!”.
Gue masih inget banget, beliau kaget dengan pernyataan gue.
Keesokan harinya, gue dipanggil beliau ke ruang guru. Nah, inilah awal mula semua ini terjadi.
Beliau nawarin gue untuk ikut program studi Seni Rupa dan Sastra, yaitu Remedial. Karena gue beneran pengen banget masuk FSRD gue pun menyetujui tawaran beliau.
Pulang dari sekolah gue langsung diskusi sama kedua orang tua gue, karena kebetulan juga tempatnya jauh dari rumah gue. Orang tua gue pun setuju dan gue selama kurang lebih satu minggu bolos les untuk menyiapkan portofolio yang diminta untuk pendaftaran peserta waktu itu.
Kebetulan isi portofolio gue ada karya sastra dan seni rupanya, lengkap udah itu.
Setelah menunggu beberapa waktu akhirnya pengumuman seleksi peserta Remedial keluar dan ada nama gue. Seneng banget sih itu, tidak bisa dideskripsikan seberapa bahagianya gue waktu dapet email dari Remedial.
Waktu awal pertemuan gue kenalan sama peserta lainnya, gue melihat mereka keren-keren banget. Awalnya ikut kegiatan ini untuk fokus ke Seni Rupa karena gue mau masuk FSRD.
Setelah beberapa pertemuan, karangan gue dilirik sama Remedial dan mereka menawarkan untuk menerbitkan karangan itu. Yang jelas, gue setuju. Like, siapa sih yang mau menolak kesempatan itu?
Tapi sayang, tiap pertemuan pesertanya makin menyusut. Sampai pada saat presentasi Remedial yang pertama hanya tersisa lima peserta saja (Presentasi Pertama Remedial 2019)
Sebuah momen saat presentasi itu adalah saatnya pemaparan konsep pameran nanti dan pemberitahuan mentor untuk setiap peserta.
Dari kita berlima, cuma gue yang belum ada mentornya saat itu. I’m kinda sad at that time. But, I can understand the situation sih karena mereka tidak mau salah bimbingan.
Beberapa hari setelah presentasi Remedial yang pertama, gue dihubungin via WA dan dikabarin bahwa gue udah dapet mentor. GUE TERIAK KESENANGAN PAS BACA KALO MENTOR GUE MONICA HAPSARI!!!!!
WAH GILA SIH… SPEECHLESS.
Gue dikasih kontaknya dan gue nunggu beberapa hari buat hubungin Kak Monic, jujur aja gue nervous duluan LMAO. Gue sampe ngetik di notes dulu dan nanya ke Bokap gue kalo kalimatnya bener apa tidak. Iya, gue segugup itu. Malu banget gue jelasinnya, LOL.
Akhirnya, gue kirim pesan ke Kak Monic. Gugup nunggu dibales. Tangan jadi dingin. Gue tidak bisa diem di tempat. Memantau hp gue.
Pas pesan gue dibales, gue kesenengan tidak jelas terus bingung mau bales apa. Sampai akhirnya, pertemuan gue pertama kali sama Kak Monic itu di rumahnya. Baik banget orangnya :’))))).
Gue selama di rumah Kak Monic ditemenin sama bokap sampe pulang. Bisa dibilang, gue sama Kak Monic ngobrol seharian dan itu non-stop. SERU BANGET DONG NGOBROLNYA, NGALIR KAYAK ARUS LISTRIK.
Dari hasil gue ngobrol sama Kak Monic, gue dapet banyak banget ide-ide baru buat cerita gue. Salah satunya adalah perubahan judul dari “Aku INDIGO” menjadi “The Lightworkers” (ini juga menjadi salah satu bahan pameran kemarin).
Dengan banyaknya referensi yang gue dapatkan dari Kak Monic, gue nyari waktu setelah pulang sekolah dan setiap weekend untuk research bahan-bahan yang dikasih dari beliau.
Sayangnya, ditengah-tengah proses pembuatan karya gue sakit. Sakit selama tiga bulan dan tanpa diagnosa. Awalnya gue udah putus asa karena tidak bisa melanjutkan karya.
Apalah daya, mau napas aja susah.
Selama tiga bulan itu gue tidak sekolah dan tidak les, hampir setiap hari gue nangis. Stress. Depresi berat. Hopeless. Takut. Cemas. Non-stop konsumsi obat.
Khususnya yang paling gue takutkan adalah urusan sama sekolah, gue stress banget mikirinnya. Setelah satu bulan stress mikirin tidak bisa sekolah dan tugas yang numpuk, dokter suruh gue untuk let go dulu semua urusan termasuk pameran.
Bahkan, gue udah ada kepikiran untuk mundur dari program Remedial. Awalnya tanggal pameran itu sekitar pertengahan Desember 2019.
Pas banget di awal November 2019 gue mau ngabarin kalo gue mau mengundurkan diri, tapi ternyata Tuhan berkata lain. Gue dikabarin kalo pamerannya diundur jadi bulan Januari karena ada Open House.
Gue seneng banget. Gue masih bisa menaruh harapan kalo bulan Januari nanti gue tetap bisa pameran.
Hanya orang tua, teman-teman, Pak Abi, dan Pak Wacil Wahyudi (Kepala Sekolah Remedial) yang selalu ngedukung dan semangatin gue untuk tetap semangat dan berjuang untuk sembuh.
Malam itu di awal bulan Desember 2019 setelah dari dokter untuk kesekian kalinya, gue sama bokap gue makan di salah satu tempat makan di daerah Tangerang Selatan. Selama perjalanan ke tempat makan, gue kepikiran akan sesuatu hal.
Gue minta kertas sama pulpen ke bokap gue, terus gue gambar dan terbentuklah “Helios Ávra”.
Asal muasal Helios Ávra sendiri bisa dibilang cukup kelam, yang mana itu menjadi sebuah karya yang muncul disaat gue sakit dan mental gue juga tidak beres saat itu.
Sekarang Helios Ávra sudah menjadi sebuah bagian penting dalam peristiwa di kehidupan gue pribadi. Helios Ávra mengingatkan gue terhadap kesedihan dan kekecewaan gue selama hampir tiga tahun pengerjaan karya ini.
Akhirnya, di minggu-minggu terakhir sekolah gue semangatin diri gue lagi untuk masuk sekolah. Walaupun tidak bisa lama-lama, setidaknya gue udah berusaha dan seneng bisa balik lagi menginjak tanah sekolah. Urusan sekolah akhirnya selesai dan gue mulai semangatin diri gue lagi untuk selesain naskah dan karya pameran nanti.
Naskah pun akhirnya terselesaikan pada pertengahan Desember 2019.
Karena otak gue udah tidak ada inspirasi lagi buat bahan pameran nanti, gue akhirnya pergi liburan sekalian buat terapi mental gue yang hancur habis-habisan selama tiga bulan itu.
Sebenarnya, dari November 2019 dokter sudah menyarankan gue untuk pergi liburan. Tapi, dengan syarat bahwa semua urusan gue harus diberesin dulu.
Karena urusan sekolah dan naskah gue rasa sudah cukup. Akhirnya, gue sekeluarga pergi jalan-jalan ke Bali. Tidak tahu kenapa tapi yang terlintas di otak gue adalah Bali.
Desember 2019 menjadi momen yang paling berkesan banget di dalam kehidupan gue selama tahun 2019. Semua mulai berubah di bulan itu, seakan-akan Tuhan sudah nyiapin surprise buat gue (Therapy). Setelah gue hancur berkeping-keping di awal 2019 ternyata ada sesuatu di akhir 2019.
Hidup gue mulai berubah sejak gue ke Bali dan ketemu sama Pak Ucok Silitonga dan keluarganya.
Di tahun 2020, semua mulai berubah perlahan. Gue bener-bener bisa ngerasain apa itu bahagia yang sebenarnya. Rasa yang selama ini gue dambakan akhirnya bisa gue rasakan.
Satu hari setelah tahun baru gue balik ke Jakarta, gue mulai lanjutin karya gue lagi. Di saat deadline sudah mau mendekat dan karya belum selesai juga, gue dikabarin lagi kalo pamerannya jadinya bulan Februari 2020. KEREN BANGET GK SIH?!? BISA PAS BANGET :’))
Di bulan Januari 2020, gue akhirnya ketemu sama kurator gue, Kak Rifandi Nugroho. Disini gue dikabarin kalo yang pameran tinggal dua peserta aja. Sad banget 😥
Setelah banyak berbincang dengan Kak Rifandi, muncullah sebuah gagasan untuk masukin arsip selama gue sakit. Hasil röntgen, dll pun dimasukan ke pameran gue.
Sampai akhirnya sudah tinggal satu minggu sebelum pameran, gue dikabarin kalo gue jadinya pameran sendiri aka pameran tunggal.
Waktu nyebarin posternya di sosmed gue sama sekali tidak sadar kalo tulisannya itu pameran tunggal. Gue baru sadar pas gue di-DM sama Pak Abi LOL.
Gue jadi tambah nervous, karena gue bakalan pameran sendiri. Gue tidak tahu harus apa nanti.
Akhirnya, pembukaan pameran tunggal dan peluncuran buku berlangsung lancar. Gue seneng banget. Tidak tahu mau ngomong apa lagi. Setiap ada yang nanya, gue udah kehabisan kata-kata kalo ngebahas perjalanan gue untuk sampai ke titik ini.
Beberapa hari setelahnya, gue dikabarin sama temen gue kalo pameran gue masuk ke agenda DISPAREKRAF DKI JAKARTA, gue panik dong.
Begitulah kurang lebih, kisah dibalik proses pengerjaan karya The Lightworkers ini. Dari sebuah novel menjadi sebuah titik tolak gue untuk menciptakan karya seni rupa dan pameran tunggal.
Selama satu tahun mengabdi di ABNONKU JAKUT (2017-2018) gue punya proker saat itu, yang mana gue mau gabungin literasi dengan dunia seni. Sempet jalan sih, tapi kurang maksimal. Mungkin karena saat itu ABNONKU tugasnya di RPTRA yang mana isinya adalah anak-anak.
Sekarang, proker itu sudah bisa gue realisasi sendiri dan gue bangga.
Pada kali ini, gue mendapatkan kesempatan untuk bertugas di PRJ (Pekan Raya Jakarta) dengan membawa nama ABNONKU dan DISPUSIP (Dinas Perpustakaan dan Kearsipan) DKI Jakarta. Jujur saja, itu pertama kalinya gue ke PRJ 😉
Selama bertugas, gue berpartner dengan salah satu Abang finalis ABNONKU Jakarta Utara yaitu, Abang Riyan.
Pekan Raya Jakarta merupakan sebuah acara yang diadakan satu tahun sekali untuk memperingati hari ulang tahun kota Jakarta. Acara ini diadakan di Jakarta International Expo yang berada di Kemayoran, Jakarta Pusat.
Q: Tugasnya itu apa aja sih?
A: Dari pihak ABNONKU sendiri kami ditugaskan untuk, antara lain;
Menyambut pengunjung pameran agar mau berkunjung ke booth DISPUSIP;
Memberikan penjelasan mengenai layanan perpustakaan, kearsipan, dan pemanfaatan iJakarta;
Membimbing pengunjung untuk mencoba iJakarta; dan
Membantu mendownload iJakarta di-smartphone pengunjung.
Q: Apa itu iJakarta?
A: iJakarta merupakan aplikasi perpustakaan digital atau ePustaka. Dimana kita sebagai pembaca tidak perlu repot-repot lagi untuk membawa-bawa buku, karena dengan iJakarta yang tersedia di-smartphone kita maka hal ini dapat meringankan kita.
iJakarta sendiri juga memiliki banyak koleksi buku-buku, mulai dari buku-buku fiksi/non-fiksi, buku pelajaran, dan masih banyak lagi. Beberapa dari buku-buku yang terdapat di aplikasi ini pun juga tersedia dalam berbahasa inggris.
Di Pekan Raja Jakarta sendiri banyak terdapat booth lainnya yang menawarkan informasi maupun barang-barang yang menarik, mulai dari makanan, pakaian, peralatan rumah tangga, dll.
Harga tiket masuk ke Jakarta Fair berkisaran Rp25.000 sampai Rp35.000
Acara ini dapat dikunjungi oleh seluruh kalangan, mulai dari anak-anak sampai orang dewasa. Biasanya, untuk anak-anak tersedia booth RPTRA yang bersebelahan dengan booth DISPUSIP. Booth RPTRA sendiri difasilitasi dengan beberapa mainan dan buku-buku dari DISPUSIP, jadi anak-anak dapat bermain dan membaca buku.
Halo, para pembaca! Ini adalah tulisan pertama gue setelah menghadapi waktu yang sulit. Kali ini gue akan menceritakan pengalaman gue selama mengikuti audisi Abang None Buku Jakarta Utara (ABNONKU JAKUT) 2017. Kita mulai ceritanya!
(Jumat, 11 Agustus 2017)
Cerita ini dimulai sehari sebelum *technical meeting. Gue punya seorang teman namanya Ahfaz. Dia itu yang awalnya mengajak gue untuk ikut audisi Abang None Buku (ABNONKU) ini. Pada hari-hari sebelumnya, pihak sekolah ternyata sudah mengabarkan bahwa akan ada audisi ABNONKU ini. Yang mana saat pemberitahuan itu dikabarkan gue lagi berhalangan jadinya tidak hadir. Waktu gue masuk, banyak teman gue yang menawarkan untuk ikut audisi ini, dengan alasan karena gue ini “menguasai” Bahasa Inggris dan “jago” dalam hal berbicara di depan umum alias publicspeaking. (Walaupun menurut aku pribadi, gue ini tidak jago-jago banget). Gue sama Ahfaz seharian membahas perihal audisi itu. Pada awalnya, gue berasumsi bahwa pendaftraannya itu sudah ditutup. Saat gue tanya sama senior di sekolah gue yang pernah ikut audisi ini, dia bilang bahwa penyerahan form serta pendaftaraannya dapat dilakukan waktu hari TM (Technical Meeting).
*Istilah yang biasa digunakan dalam setiap perlombaan perihal pertemuan/rapat wajib antara panitia dan peserta untuk membahas pengaturan dan peraturan sebuah kegiatan.
(Sabtu, 12 Agustus 2017)
Technical Meeting
Technicalmeeting dimulai sekitar pukul 08:00 WIB. Setelah kita kasih form yang sudah diisi, kita dikasih nomor peserta. Gue mendapatkan nomor 20. Sistemnya itu, untuk *None (genap), sedangkan Abang (ganjil). Saat gue masuk ke ruang rapat, gue kaget karena peserta yang ikut itu bukan hanya dari kalangan anak SMA saja tetapi sampai kalangan mahasiswa. Mahasiswanya pun bukan dari sembarang universitas, ada yang dari UI (Universitas Indonesia), dll. Setelah melihat mereka, gue merasa sedikit pesimis, kayak, gue ini baru masuk ke SMA kurang dari satu bulan. Tetapi, gue punya prinsip yang mana “Jika gue telah melakukan sesuatu, gue harus menyelesaikannya”. Setelah kurang lebih tiga jam TM dengan berbagai rangkaian acaranya, gue dan Ahfaz langsung balik ke sekolah buat ngerancang visi, misi, dan proker.
*Bahasa Betawi untuk “Nona”
(Minggu, 13 Agustus 2017)
Hari Audisi
Pada hari audisi, kita diwajibkan menggunakan officeattire, seperti kemeja putih, blazer, rok/celana panjang, dan hak tinggi/sepatu. Setelah sekian lama menunggu, akhirnya nama gue dipanggil. Di ruang penjurian ada sekitar lima pos penjurian, ditiap pos punya aspek penilaiannya masing-masing, misalkan di pos dua itu mengenai bahasa asing, maka pihak juri akan mengetes kita dalam bagaimana kita menggunakan bahasa asing tersebut.
Setelah selesai melakukan audisi, seluruh peserta dikumpulkan ke ruang auditorium. Sekitar pukul 21:00 WIB audisi baru selesai dilaksanakan. Semua peserta dipindahkan ke ruang aula dalam rangka pemberitahuan siapa saja yang akan menjadi finalis ABNONKU JAKUT alis Top 10. Sebelum melanjutkan ceritanya, gue mau memberitahu sesuatu. Saat mengikuti audisi ini gue peserta paling muda dari semua. Kriterianya itu mulai dari usia 15–21 tahun dan tebak umur gue berapa saat itu? 15 tahun. Konyol? gue pikir begitu.
Setelah seharian audisi, akhirnya pengumuman finalis ABNONKU JAKUT (Top-10) diumumkan. Yang pertama kali disebutkan itu adalah Top-10 None, dan orang yang menempati posisi pertama itu dari UI, saat mendengar itu seketika gue merasa seperti, “Ya, mungkin lain waktu.” Well, well, well. gue tidak tahu kalian akan percaya atau tidak karena ini benar-benar terjadi, GUE DAPET POSISI KEDUA DI AUDISI. Gue merasa lagi di sebuah mimpi, gue tidak bisa berkata apa-apa. Gue tidak tahu mau ngomong apa. IT IS WHAT IT IS.
(Senin-Sabtu, 14-19 Agustus 2017)
Karantina
Dalam kurung waktu satu minggu, para finalis mendapatkan pembekalan materi (karantina) dari para pakar, mulai dari publicspeaking dan bahasa asing, dll. Yang mana, semua materi yang diberikan selama karantina tersebut tidak kita dapatkan dimana pun, selain kita mengikuti ajang ABNONKU ini.
Selama masa karantina, para finalis dipasangkan dengan total sepuluh pasang yang terdiri dari sepuluh finalis Abang dan None Buku. Saat masa karantina , gue dipasangkan dengan Abang Abdan dari SMA Negeri 83 Jakarta.
Di hari terakhir masa karantina, para finalis melakukan pertunjukan bakat dan latihan terakhir sebelum malam final.
(Minggu, 20 Agustus 2017)
Malam Final
Final Abang None Buku Jakarta Utara 2017 dilaksanakan di Emporium Pluit Mall, acara ini dimulai sekitar pukul 20:00 WIB.
Dari pagi hari para finalis sudah sampai di lokasi, kami mempersiapkan diri untuk tampil nanti. Selama menunggu final, gue bersama finalis yang lain melakukan rutinitas seperti beribadah, latihan *QnA, dll.
*Bahasa Inggris untuk “tanya jawab”
Selama menunggu gue merasa gugup. Gue takut gagal pada sesi QnA. Gue pun latihan terus-menerus agar sesi tersebut dapat berjalan dengan lancar.
Dan saatnya telah tiba, beberapa jam sebelum acara dimulai para finalis melakukan persiapan, seperti merias wajah, dll. Setelah selesai bersiap, kami beranjak ke arah panggung. Acara ini dimulai dengan perkenalan para finalis terpilih. Lalu dilanjut dengan sesi QnAdan ya… gue pikir gue benar-benar hancur banget, karena ya… saat latihan gue sudah merasa pede untuk menjawab tapi saat final aku gugup dan sempat berhenti beberapa detik saat menjawab. Setidaknya, gue sudah mencoba yang terbaik. Setelah sesi QnA, acara dilajutkan dengan penampilan dari Mervo (The Voice Indonesia), *nandak, dan *lenong dari finalis ABNONKU JAKUT 2017.
*Bahasa Betawi untuk “menari”
^Teater tradisional Betawi
Akhirnya kini saatnya malam penobatan atau final dari Pemilihan Abang dan None Buku Jakarta Utara 2017. Seluruh finalis naik ke atas panggung dan siap untuk mengetahui siapakah yang akan masuk ke urutan Top 5 Abang dan None Buku Jakarta Utara 2017. Singkat cerita, disini tuh gugup banget dari selesai QnA gue ngerasa kayaknya enggak akan kepilih masuk Top 5. Gue hanya bisa berdoa dan berserah saja sama Tuhan, jika memang Ia kehendaki maka akan terjadilah demikian.
Yang pertama dipanggil itu adalah pemenang Harapan II. “Harapan II None Buku Jakarta Utara 2017 jatuh kepada… None Nilam Qisthia Nadhila dari Universitas Negeri Jakarta!” Waktu denger itu, gue langsung merasa pasrah. “Duh enggak mungkin gue diatas Non Nilam. Gue cuma anak kelas X SMA yang baru masuk sebulan,” pikir gue. Harapan pun menghilang begitu saja. Lalu dipanggillah pemenang Harapan I yang diawali dari Abang terlebih dahulu, untuk Harapan I Abang Buku Jakarta Utara 2017 jatuh kepada Abang Muhammad Yusuf Fikri dari SMA Negeri 13 Jakarta. Akhirnya disebutkanlah pemenang Harapan I None, “Harapan I None Buku Jakarta Utara 2017 jatuh kepada… None Hannah Brigitta!” WAW! Masih enggak percaya kalo nama gue akan dipanggil. Gue kayak, “Bagaimana ini bisa terjadi?!?!”
Akhir kata, aku ingin mengucapkan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan hikmatnya dengan terpilihnya menjadi Harapan I None Buku Jakarta Utara 2017. Serta kepada orang tua & keluarga, senior dan finalis, serta teman-teman semua. Terima kasih yang sebesar-besarnya!
Sebagai Harapan I None Buku Jakarta Utara 2017, kiranya saya dapat membawakan nama baik Abang None Buku Jakarta Utara di mata masyarakat.
Leave a comment