On September 5th, I celebrated my second year in Bali. Time flies fast and it is hard to believe it has been two years already. Anyway, hi! How are you doing? Good? Great?
Pada tanggal 5 September, aku merayakan tahun keduaku di Bali. Waktu berlalu dengan begitu cepat dan sulit dipercaya bahwa ini sudah berlalu selama dua tahun, ya. Anyway, hai! Apa kabar?
I finally have some spare time to check my website and see how it is doing. I was surprised to discover that the last post I wrote was two years ago! Back then, I was still young, innocent, and hadn’t even turned 20 yet.
Aku akhirnya punya waktu luang untuk mengatur kembali website ini. Aku cukup kaget saat mengetahui bahwa postingan terakhir yang aku tulis itu sekitaran dua tahun yang lalu! Yang mana saat itu, aku masih muda, polos, dan bahkan belum menginjak usia 20 tahun.
I was 19 when I first started college–I started college a little late than most of the students at the school because I took a year of gap year. Last January, this girl officially turned 21 and finally managed to get back to Jakarta to celebrate her birthday with her dear family and friends.
Aku berusia 19 tahun ketika aku pertama kali mulai kuliah–aku mulai kuliah sedikit terlambat dibandingkan kebanyakan siswa di kampusku karena aku mengambil satu tahun untuk gap year. Pada Januari lalu, gadis ini resmi menginjak usia 21 tahun dan akhirnya memutuskan untuk kembali pulang ke Jakarta untuk merayakan ulang tahunnya bersama dengan keluarga dan sahabat tersayangnya.
There are lots of things going on for the past 2 years in college and in my personal life. I am currently in my 5th semester and I applied for an entrepreneurship program under the 1Kampus Merdeka program which is held by the Indonesian Ministry of Education, Culture, Research and Technology. This semester, I will be learning about the idea of entrepreneurship and creating a prototype of a business. I am still unsure of what kind of business I want to make, but there are some ideas in my mind.
Ada banyak hal yang terjadi selama 2 tahun terakhir di kampus dan di dalam kehidupan pribadi aku. Saat ini aku sudah berada di semester 5 dan aku mendaftarkan diri untuk mengikuti program kewirausahaan dalam program Kampus Merdeka yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi RI. Pada semester ini aku akan belajar tentang ide kewirausahaan dan membuat prototipe bisnis. Aku secara pribadi masih bingung ingin berbisnis apa, namun ada beberapa ide yang bermunculan di dalam benakku.
Let’s shift the topic away from college and focus on the personal growth of this 21-year-old.
Mari kita alihkan topik dari kuliah dan fokus ke pembahasan mengenai pertumbuhan pribadi dari perempuan yang berusia 21 tahun ini.
My 21st journey was and is tough. It felt great at first, but then it got worse. There was several personal stuff going on during the beginning of my 21. It was hard. Harder than I thought it would ever be. I guess that was the moment when I felt like I had reached the very lowest point of my life. I never thought my lowest point would ever come from that event. It was just …
Perjalananku di umur 21 ini cukup rumit. Awalnya terasa menyenangkan, namun kemudian menjadi buruk. Ada beberapa hal pribadi yang terjadi di awal 21 tahunku. Itu berat. Lebih berat dari yang aku kira. Aku merasa bahwa di saat itulah aku telah mencapai titik terendah dalam hidupku. Aku tidak pernah mengira bahwa titik terendahku akan datang dari peristiwa itu. Itu …
After returning home to Jakarta and being with my family, I realised that I could not bear the pain alone anymore. It became clear to me that something I had been doing was wrong, and unfortunately, it ended badly.
Setelah pulang ke Jakarta dan berkumpul dengan keluargaku, aku menyadari bahwa aku sudah tidak sanggup lagi menahan rasa sakit ini sendirian. Menjadi jelas bagiku bahwa sesuatu yang aku lakukan selama ini itu adalah hal yang salah, dan sayangnya, hal itu berakhir dengan buruk.
It was delightful to see and feel the presence of my Dad, who came to visit me the very next day after I called him to come. Oh, God, I am still able to feel the pain while writing these details. I was sick and could not do certain things–probably because I felt unmotivated. I almost thwarted my school on its very first week of the new semester.
Sungguh menggembirakan bagiku untuk melihat dan merasakan kehadiran Ayahku yang datang untuk mengunjungiku keesokan harinya setelah aku melakukan panggilan telepon dengannya untuk datang. Aku masih bisa merasakan sakitnya saat menuliskan detail ini. Saat itu aku sakit dan tidak dapat melakukan hal-hal tertentu–mungkin karena aku merasa tidak termotivasi. Aku hampir menggagalkan kuliahku pada minggu pertama pembelajaran saat semester baru dimulai.
Although the experience was unpleasant and unsettling, I made an effort to recover from it. I discovered a new group of people and explored various new activities. It took me some time to rediscover my sense of self, and I am still working on it. However, that event did not have a significant impact on my academic performance. Despite the rough emotions, my grades remained consistently good.
Walaupun pengalaman itu tidak menyenangkan, aku berusaha untuk pulih dari hal tersebut. Aku menemukan komunitas baru dan mencoba berbagai aktivitas baru. Aku membutuhkan beberapa waktu untuk menemukan jati diriku kembali, dan aku masih mencarinya. Untungnya, kejadian buruk itu tidak berdampak secara signifikan terhadap nilai akademikku. Meskipun emosiku menjadi labil, nilaiku tetap bagus seperti biasanya.
I have been under professional help since February 2023, and it has been very helpful. However, there was a moment when I realized that I was paying for counselling just to alleviate my loneliness, and this realization hit me hard. I took all of the advice from my psychologist and it helped me to rediscover the broken pieces of my self-identity.
Aku telah mendapatkan bantuan profesional sejak Februari 2023 dan itu sangat membantu. Namun, ada saat ketika aku menyadari bahwa aku membayar untuk kegiatan konseling hanya untuk menghilangkan rasa kesepian yang aku rasakan, dan kesadaran itu membuatku merasa sangat terpukul. Aku mengikuti semua nasihat dari psikologku dan itu membantuku untuk menemukan kembali kepingan identitas diriku yang hancur.
Around the end of July 2023, I went to 2Lombok for my first solo trip alongside a private tour guide and travelled to the Gili Islands, snorkelling, hiking in Senaru to see the waterfalls and going to several beautiful beaches. In addition, I began making 3plein air paintings with watercolour as my travel diary.
Sekitar akhir bulan Juli 2023, aku pergi ke Lombok untuk solo trip pertamaku bersama pemandu wisata pribadi dan menjelajahi Kepulauan Gili, snorkeling, hiking di Senaru untuk melihat air terjun dan mengunjungi beberapa pantai yang indah. Selain itu, aku juga mulai membuat lukisan en plein air dengan cat air sebagai buku harian dari petualanganku.
I also went to Ubud for another solo trip and stayed at a nice villa. The experience was delightful as I got to enjoy reading a book by the pool and in the bathtub, sightseeing at night, meeting up with a friend, painting and going on an amazing tour of several art museums.
Aku juga pergi ke Ubud untuk solo trip berikutnya dan menginap di sebuah vila. Pengalaman yang aku rasakan selama di sana sangatlah menyenangkan karena aku dapat membaca buku di tepi kolam renang dan di bathtub, jalan-jalan di malam hari, bertemu dengan teman, melukis, dan melakukan tur yang menarik ke beberapa museum seni.

Not long after my solo trip to Ubud, I had another appointment with my psychologist as I got more concerned about my mental health. I declared to my psychologist that I did my gateway to Lombok and Ubud as my escape from the problems that occurred around the end of February of 2023–which was the day when I started seeking out professional help. During my trip to Lombok, it felt great and exciting because I got to try a lot of new things! But what happened in Ubud is something else. I mean, it did feel great. But there was just ‘something’ within me that felt broken and sad. I do like to travel alone, but maybe not in this very situation.
Tidak lama setelah solo trip-ku di Ubud, aku kembali membuat janji lagi dengan psikologku karena aku mulai khawatir terhadap kesehatan mentalku. Aku menyatakan kepada psikologku bahwa aku melakukan liburan ke Lombok dan Ubud sebagai bentuk pelarianku dari kejadian yang terjadi di sekitaran akhir Februari 2023 itu–yang mana pada saat yang sama aku turut mulai mencari bantuan secara profesional. Selama perjalananku ke Lombok, rasanya menyenangkan karena aku bisa mencoba banyak hal baru! Namun yang terjadi di Ubud sangat berbeda. Maksudku, di sana juga menyenangkan. Namun ada ‘sesuatu’ di dalam diriku yang terasa hancur dan menyedihkan. Aku memang suka bepergian sendirian, tapi mungkin tidak dalam situasi seperti ini.
I stayed at a private villa in Ubud. The room was nice and I got a private pool as well. What triggered me was that, right next to my villa was sounded like a nice family. From what I could recall, I could hear the sound of kids playing in the swimming pool from morning until dusk while their parents were chit-chatting on the patio. On the other hand, there was me whom stayed next to them, and I was all alone. It really did hit me hard–harder than a rock.
Aku menginap di vila privat di Ubud. Kamarnya bagus dan aku mendapat kolam renang pribadi juga. Suatu hal yang menjadi trigger bagi aku saat itu ialah, tepat di sebelah vilaku terdengar seperti keluarga yang harmonis. Seingatku, aku bisa mendengar suara anak-anak bermain di kolam renang dari pagi hingga senja, sementara orang tuanya asik ngobrol di teras. Di sisi lain, ada aku yang tinggal di samping mereka, dan aku sendirian. Itu benar-benar memukulku dengan sangat keras–lebih keras daripada batu.
I do like to have a company. But, there is this ‘something’ that keeps on pushing me to go, to escape and to run alone. Then you might start asking me these questions:
Aku sendiri suka untuk memiliki teman bicara. Tapi, ada ‘sesuatu’ yang terus mendorongku untuk pergi, melarikan diri, dan berlari sendirian. Kemudian kamu mungkin mulai menanyakan pertanyaan-pertanyaan ini kepadaku:
“Where do you feel like you wanna go to?”
“Kamu mau pergi kemana?”
“What makes you feel like it?”
“Apa yang membuat kamu merasa demikian?”
“What are you trying to run away from?”
“Apa yang kamu coba hindari?”
“Why? Just why?”
“Kenapa?”
I do not have the answer for that, just to be honest with you. I really do not. But the thing is, I feel lonely. I am lonely. I kept on making myself busy as a temporary escape from it. Then, what are you trying to run away from? I do not know and I wish I know.
Aku tidak punya jawaban untuk itu, jujur saja bahwa aku benar-benar tidak punya jawaban. Tapi masalahnya, aku merasa kesepian. Aku kesepian. Aku terus menyibukkan diri sebagai bentuk pelarian sementara dari hal itu. Lalu, apa yang kamu coba hindari? Aku tidak tahu dan aku pun berharap bahwa aku tahu.
“Hi dear Hannah, you have been on my heart to pray for you and even though I didn’t know all of these details before, God did and I’ve been praying for you since we met! I realise that mental health issues are very real and cannot just be ignored or prayed away. I’m so glad to hear that you are getting professional help with your therapist. And I love that you are finding friendship and support through 4Connect and the community at church!” – PJ
“Tante and Om is happy to know that. Keep looking up. God is with you. Take care ya. I’m here for you ❤️” – ER
Those messages above are personal texts that I received from the people whom are very special to me. I keep on using those words as a reminder that I am not and will never be alone. There are people out there who care and would like to help and guide you in the right way as they will never take any advantage of you. Good people still exist. Try to get out of your comfort zone and seek help when you feel like you need to. It is not a shame to seek professional help, like going to a psychologist or psychiatrist. They can help and that is why they exist. Yet, at the end of the day, the decision is all yours and you can only choose two paths.
Pesan-pesan di atas adalah pesan pribadi yang aku terima dari orang-orang yang sangat spesial bagiku. Aku terus menggunakan pesan itu sebagai pengingat bahwa aku tidaklah dan tidak akan pernah sendirian. Ada orang-orang di luar sana yang peduli dan ingin membantu serta membimbing kamu dengan cara yang benar dan mereka tidak akan pernah memanfaatkan kamu akan hal itu. Orang-orang baik itu masih ada. Cobalah untuk keluar dari zona nyamanmu dan carilah bantuan ketika kamu merasa butuh. Bukanlah hal yang memalukan untuk mencari bantuan profesional, seperti pergi ke psikolog atau psikiater. Mereka dapat membantu dan itulah sebabnya mereka ada. Namun, pada akhirnya, semua keputusan ada di tangan kamu dan kamu hanya dapat memilih dua jalan.
“Do you want to change?” or “Do you want to keep on suffering from your past?”
“Apakah kamu ingin berubah?” atau “Apakah kamu ingin terus menderita karena masa lalumu?”
Footnotes/Catatan Kaki:
- Kampus Merdeka is part of the policy made by the Indonesia Ministry of Education, Culture, Research and Technology which aims to allow every student in Indonesia to hone their skills based on their interest and talents by going directly to the world of work as a step for their career preparation. (Source: Kampus Merdeka). ↩︎
- An island located in West Nusa Tenggara, Indonesia. It is right on the east side of Bali and it took me 3 hours to get to Lombok from Sanur harbour. ↩︎
- A practice of painting outdoors in real-time and conditions / kegiatan melukis di luar ruangan secara real-time. ↩︎
- Youth community at the church / komunitas pemuda di gereja. ↩︎
Stay in Touch!
Enter your email below to receive updates.












Leave a comment