Pengamalanku Mengikuti Abang None Buku

5–7 minutes

Halo, para pembaca! Ini adalah tulisan pertama gue setelah menghadapi waktu yang sulit. Kali ini gue akan menceritakan pengalaman gue selama mengikuti audisi Abang None Buku Jakarta Utara (ABNONKU JAKUT) 2017. Kita mulai ceritanya!

(Jumat, 11 Agustus 2017)

Cerita ini dimulai sehari sebelum *technical meeting. Gue punya seorang teman namanya Ahfaz. Dia itu yang awalnya mengajak gue untuk ikut audisi Abang None Buku (ABNONKU) ini. Pada hari-hari sebelumnya, pihak sekolah ternyata sudah mengabarkan bahwa akan ada audisi ABNONKU ini. Yang mana saat pemberitahuan itu dikabarkan gue lagi berhalangan jadinya tidak hadir. Waktu gue masuk, banyak teman gue yang menawarkan untuk ikut audisi ini, dengan alasan karena gue ini “menguasai” Bahasa Inggris dan “jago” dalam hal berbicara di depan umum alias public speaking. (Walaupun menurut aku pribadi, gue ini tidak jago-jago banget). Gue sama Ahfaz seharian membahas perihal audisi itu. Pada awalnya, gue berasumsi bahwa pendaftraannya itu sudah ditutup. Saat gue tanya sama senior di sekolah gue yang pernah ikut audisi ini, dia bilang bahwa penyerahan form serta pendaftaraannya dapat dilakukan waktu hari TM (Technical Meeting).

*Istilah yang biasa digunakan dalam setiap perlombaan perihal pertemuan/rapat wajib antara panitia dan peserta untuk membahas pengaturan dan peraturan sebuah kegiatan.

(Sabtu, 12 Agustus 2017)

Technical Meeting


Technical meeting dimulai sekitar pukul 08:00 WIB. Setelah kita kasih form yang sudah diisi, kita dikasih nomor peserta. Gue mendapatkan nomor 20. Sistemnya itu, untuk *None (genap), sedangkan Abang (ganjil). Saat gue masuk ke ruang rapat, gue kaget karena peserta yang ikut itu bukan hanya dari kalangan anak SMA saja tetapi sampai kalangan mahasiswa. Mahasiswanya pun bukan dari sembarang universitas, ada yang dari UI (Universitas Indonesia), dll. Setelah melihat mereka, gue merasa sedikit pesimis, kayak, gue ini baru masuk ke SMA kurang dari satu bulan. Tetapi, gue punya prinsip yang mana “Jika gue telah melakukan sesuatu, gue harus menyelesaikannya”. Setelah kurang lebih tiga jam TM dengan berbagai rangkaian acaranya, gue dan Ahfaz langsung balik ke sekolah buat ngerancang visi, misi, dan proker.

*Bahasa Betawi untuk “Nona”

(Minggu, 13 Agustus 2017)

Hari Audisi


Pada hari audisi, kita diwajibkan menggunakan office attire, seperti kemeja putih, blazer, rok/celana panjang, dan hak tinggi/sepatu. Setelah sekian lama menunggu, akhirnya nama gue dipanggil. Di ruang penjurian ada sekitar lima pos penjurian, ditiap pos punya aspek penilaiannya masing-masing, misalkan di pos dua itu mengenai bahasa asing, maka pihak juri akan mengetes kita dalam bagaimana kita menggunakan bahasa asing tersebut.

Setelah selesai melakukan audisi, seluruh peserta dikumpulkan ke ruang auditorium. Sekitar pukul 21:00 WIB audisi baru selesai dilaksanakan. Semua peserta dipindahkan ke ruang aula dalam rangka pemberitahuan siapa saja yang akan menjadi finalis ABNONKU JAKUT alis Top 10. Sebelum melanjutkan ceritanya, gue mau memberitahu sesuatu. Saat mengikuti audisi ini gue peserta paling muda dari semua. Kriterianya itu mulai dari usia 15–21 tahun dan tebak umur gue berapa saat itu? 15 tahun. Konyol? gue pikir begitu.

Setelah seharian audisi, akhirnya pengumuman finalis ABNONKU JAKUT (Top-10) diumumkan. Yang pertama kali disebutkan itu adalah Top-10 None, dan orang yang menempati posisi pertama itu dari UI, saat mendengar itu seketika gue merasa seperti, “Ya, mungkin lain waktu.” Well, well, well. gue tidak tahu kalian akan percaya atau tidak karena ini benar-benar terjadi, GUE DAPET POSISI KEDUA DI AUDISI. Gue merasa lagi di sebuah mimpi, gue tidak bisa berkata apa-apa. Gue tidak tahu mau ngomong apa. IT IS WHAT IT IS.

(Senin-Sabtu, 14-19 Agustus 2017)

Karantina


Dalam kurung waktu satu minggu, para finalis mendapatkan pembekalan materi (karantina)  dari para pakar, mulai dari public speaking dan bahasa asing, dll. Yang mana, semua materi yang diberikan selama karantina tersebut tidak kita dapatkan dimana pun, selain kita mengikuti ajang ABNONKU ini.

Selama masa karantina, para finalis dipasangkan dengan total sepuluh pasang yang terdiri dari sepuluh finalis Abang dan None Buku. Saat masa karantina , gue dipasangkan dengan Abang Abdan dari SMA Negeri 83 Jakarta.

 Di hari terakhir masa karantina, para finalis melakukan pertunjukan bakat dan latihan terakhir sebelum malam final.

(Minggu, 20 Agustus 2017)

Malam Final


Final Abang None Buku Jakarta Utara 2017 dilaksanakan di Emporium Pluit Mall, acara ini dimulai sekitar pukul 20:00 WIB.

Dari pagi hari para finalis sudah sampai di lokasi, kami mempersiapkan diri untuk tampil nanti. Selama menunggu final, gue bersama finalis yang lain melakukan rutinitas seperti beribadah, latihan *QnA, dll.

*Bahasa Inggris untuk “tanya jawab”

Selama menunggu gue merasa gugup. Gue takut gagal pada sesi QnA. Gue pun latihan terus-menerus agar sesi tersebut dapat berjalan dengan lancar.

Dan saatnya telah tiba, beberapa jam sebelum acara dimulai para finalis melakukan persiapan, seperti merias wajah, dll. Setelah selesai bersiap, kami beranjak ke arah panggung. Acara ini dimulai dengan perkenalan para finalis terpilih. Lalu dilanjut dengan sesi QnA dan ya… gue pikir gue benar-benar hancur banget, karena ya… saat latihan gue sudah merasa pede untuk menjawab tapi saat final aku gugup dan sempat berhenti beberapa detik saat menjawab. Setidaknya, gue sudah mencoba yang terbaik. Setelah sesi QnA, acara dilajutkan dengan penampilan dari Mervo (The Voice Indonesia), *nandak, dan *lenong dari finalis ABNONKU JAKUT 2017.

*Bahasa Betawi untuk “menari”

^Teater tradisional Betawi

Akhirnya kini saatnya malam penobatan atau final dari Pemilihan Abang dan None Buku Jakarta Utara 2017. Seluruh finalis naik ke atas panggung dan siap untuk mengetahui siapakah yang akan masuk ke urutan Top 5 Abang dan None Buku Jakarta Utara 2017. Singkat cerita, disini tuh gugup banget dari selesai QnA gue ngerasa kayaknya enggak akan kepilih masuk Top 5. Gue hanya bisa berdoa dan berserah saja sama Tuhan, jika memang Ia kehendaki maka akan terjadilah demikian.

Yang pertama dipanggil itu adalah pemenang Harapan II. “Harapan II None Buku Jakarta Utara 2017 jatuh kepada… None Nilam Qisthia Nadhila dari Universitas Negeri Jakarta!” Waktu denger itu, gue langsung merasa pasrah. “Duh enggak mungkin gue diatas Non Nilam. Gue cuma anak kelas X SMA yang baru masuk sebulan,” pikir gue. Harapan pun menghilang begitu saja. Lalu dipanggillah pemenang Harapan I yang diawali dari Abang terlebih dahulu, untuk Harapan I Abang Buku Jakarta Utara 2017 jatuh kepada Abang Muhammad Yusuf Fikri dari SMA Negeri 13 Jakarta. Akhirnya disebutkanlah pemenang Harapan I None, “Harapan I None Buku Jakarta Utara 2017 jatuh kepada… None Hannah Brigitta!” WAW! Masih enggak percaya kalo nama gue akan dipanggil. Gue kayak, “Bagaimana ini bisa terjadi?!?!”

Akhir kata, aku ingin mengucapkan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan hikmatnya dengan terpilihnya menjadi Harapan I None Buku Jakarta Utara 2017. Serta kepada orang tua & keluarga, senior dan finalis, serta teman-teman semua. Terima kasih yang sebesar-besarnya!

Sebagai Harapan I None Buku Jakarta Utara 2017, kiranya saya dapat membawakan nama baik Abang None Buku Jakarta Utara di mata masyarakat.


Leave a comment

Stay in Touch!

Enter your email below to receive updates.

Comments

One response to “Pengamalanku Mengikuti Abang None Buku”

  1. Obsesi/Obsession – You're my Helios Ávra Avatar

    […] Satu bulan berlalu, obsesinya mulai perlahan lepas. Tiba-tiba ditawarin untuk ikut Pemilihan Abang None Buku, tidak tahu gue kenapa hari itu dan gue menyetujui tawaran […]

    Like

Leave a comment